::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Jam Karet: Red Flag Organisasi! Kenapa Kita Wajib On Time Menurut Rule Langit dan Bumi

 

Sumber Gambar: Pinterest

Fenomena ngaret atau molor kebiasaan menunda jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan sudah menjadi virus kronis di banyak organisasi, mulai rapat internal, event hingga komunitas hobi. Julukan "jam karet" ini bukan lagi candaan, tapi trademark yang merusak citra. Keterlambatan 15 hingga 30 menit pada internal meeting atau event seringkali dianggap wajar, padahal ini adalah cerminan kegagalan kita dalam menghargai waktu kader dan komitmen bersama. Ngaret menunjukkan krisis integritas kolektif, yang pada akhirnya menghambat progress dan mencoreng biaya reputasi anggota di mata stakeholder eksternal.

Mengapa kita sulit on time? Salah satu alasannya adalah warisan sejarah. Konon, istilah "jam karet" dulu muncul dari masa kolonial, di mana waktu kerja buruh sering diubah-ubah sesuai kebutuhan eksploitasi. Secara psikologis, ini meninggalkan residu bahwa disiplin waktu itu kaku dan tidak menguntungkan. Ditambah lagi, secara antropologis, budaya kita cenderung Polikronik memilih keharmonisan dan bonding sosial di atas jadwal kaku. Akhirnya, banyak organisasi memilih menunda rapat demi menunggu semua anggota kumpul, padahal dunia profesional dan tuntutan timeline modern sudah sepenuhnya Monokronik, menuntut efisiensi linear. Gesekan antara mindset yang terlalu santai ini dengan tuntutan project yang harus deliver tepat waktu adalah biang keladi penurunan produktivitas kolektif kita.

Padahal, sebagai mahasiswa yang berada di garis depan perubahan, kita harus sadar bahwa waktu adalah modal utama, bukan barang mainan. Dalam Islam, waktu itu sangat berharga, bahkan dianggap sebagai amanah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-'Asr ayat 1-2: “Demi masa (waktu). Sungguh, manusia berada dalam kerugian.” Ayat ini adalah reminder keras, bahwa menyia-nyiakan masa (termasuk ngaret) adalah jalan menuju kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Lebih dari itu, janji waktu rapat yang sudah disepakati adalah sebuah komitmen. Melanggar janji waktu tanpa alasan sah bisa dikaitkan dengan perilaku ingkar janji yang dicela agama. Jadi, disiplin waktu bukan hanya tentang etika organisasi, tapi juga tentang menunaikan amanah dan menjaga integritas keimanan.

Lalu, bagaimana nih cara kita move on dari jam karet? Kuncinya ada pada ketegasan dan perubahan mindset. Pertama, secara individu, setiap anggota harus menerapkan "Jam Pribadi Maju". Selalu sediakan buffer waktu 15 hingga 30 menit dari waktu tempuh normal. Jangan pernah hitung waktu pas-pasan. Kedua, pimpinan organisasi harus berani. Terapkan kebijakan "Mulai Tepat Waktu Tanpa Toleransi". Jika rapat jam 19.00, harus dimulai tepat 19.00, tak peduli siapapun yang belum datang. Ketegasan ini akan menjadi shock therapy yang efektif. Terakhir, ciptakan Sistem Reward and Punishment yang Adil. Beri apresiasi kecil pada yang datang awal (misalnya kesempatan pertama bicara), dan terapkan sanksi sosial bagi yang telat (misalnya mencatat nama yang telat di notulensi atau mendapat tugas notulen tambahan). Dengan menjadikan disiplin waktu sebagai culture dan menunaikan amanah waktu ini, organisasi kita akan auto menjadi powerful dan on track untuk mencapai tujuan.

Oleh: Departemen Pengembangan Organisasi PK IPNU-IPPNU UIN Malang 2025-2026

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Jam Karet: Red Flag Organisasi! Kenapa Kita Wajib On Time Menurut Rule Langit dan Bumi "

Posting Komentar