::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Banjir Bandang Menjadi Alarm Ekologis dan Tanggung Jawab Pelajar NU Menjaga Kelestarian Lingkungan Bumi

      

Sumber Gambar: detik.com

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Pulau Sumatra pada akhir November 2025, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi luka kolektif yang masih hangat dalam ingatan publik. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 442 jiwa meninggal dunia, ribuan warga terpaksa mengungsi, dan ratusan rumah beserta fasilitas umum mengalami kerusakan berat (Putra, 2025). Jalan penghubung terputus, jembatan runtuh, dan jaringan komunikasi terhenti, membuat banyak warga terisolasi tanpa akses bantuan yang memadai.

    Tragedi ini bukanlah kejadian pertama di Sumatra. Sepanjang satu dekade terakhir, wilayah ini berulang kali dilanda banjir bandang yang dipicu oleh degradasi hutan dan perubahan iklim yang semakin tidak terprediksi. Namun, bencana November 2025 tercatat sebagai salah satu yang paling parah. Oleh karena itu, pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa dampaknya bisa sedahsyat ini?

    Para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut bahwa akar persoalan tidak semata-mata terletak pada curah hujan ekstrem, melainkan pada kerusakan ekosistem di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) (Nugroho, 2025). Hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga alami —mampu menyerap hujan, menjaga struktur tanah, dan mengatur aliran air — kini banyak mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, ekspansi perkebunan sawit, permukiman, serta aktivitas penebangan ilegal. 

    Dalam situasi tersebut, curah hujan tinggi yang dipengaruhi oleh Siklon Tropis Senyar di wilayah Selat Malaka (Zahro, 2025; BMKG, 2025) menyebabkan volume air melampaui kapasitas tampungan alam. Lumpur dan batuan yang tak lagi diikat oleh akar pepohonan meluncur ke wilayah hilir, menghasilkan banjir bandang dan longsor mematikan. Dengan kata lain, kerusakan lingkungan pada akhirnya menjelma menjadi bencana sosial.

    Fenomena ini mengingatkan kita bahwa krisis ekologis bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan cerminan dari ketidakharmonisan relasi manusia dengan alam. Model pembangunan yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan yang pada akhirnya menghadirkan risiko besar mulai dari hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, beban ekonomi, dan trauma sosial yang berkepanjangan.

    Sebagai pelajar, khususnya yang berada dalam tradisi nilai Nahdlatul Ulama (NU), kita memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Nilai tawazun, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Kholiq menjadi fondasi penting dalam memandang bencanabukan hanya sebagai musibah, tetapi juga sebagai momentum refleksi sekaligus titik awal perbaikan.

  1. Menumbuhkan Kesadaran Tadabbur Alam

Pelajar NU dapat menghidupkan kembali semangat tadabbur alam, dengan memaknai bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang bertugas menjaga dan merawat alam, bukan merusaknya. Langkah sederhana seperti menanam pohon di lingkungan kampus atau  tempat tinggal menjadi tindakan nyata yang relevan sebagai bagian dari upaya restorasi ekosistem. Program kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menciptakan dampak jangka panjang dalam mengurangi risiko bencana.

  1. Menjadi Agen Literasi Ekologis

Masih banyak masyarakat di daerah rawan bencana yang belum memahami keterkaitan antara deforestasi, intensitas hujan, dan banjir bandang. Di sinilah pelajar NU berperan sebagai agen literasi ekologis. Edukasi dapat dilakukan melalui forum kajian, khutbah, diskusi komunitas, ataupun kegiatan organisasi. Mengangkat isu lingkungan dalam perspektif Islam, seperti larangan melakukan kerusakan di muka bumi (fasad) akan memperkuat kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian alam.

  1. Berkontribusi dalam Aksi Kemanusiaan

Dalam situasi krisis seperti bencana Sumatra 2025, pelajar NU dapat mengambil peran nyata melalui penggalangan dana, distribusi logistik, maupun keterlibatan sebagai relawan di Lokasi pengungsian. Tradisi NU yang menekankan nilai solidaritas, gotong royong, dan kemanusiaan menjadi spirit penting untuk hadir membantu sesama tanpa memandang latar belakang.

  1. Mengawal Kebijakan Lingkungan

Sebagai generasi muda, pelajar juga perlu peka dan kritis terhadap kebijakan publik yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Dukungan terhadap kebijakan reforestasi, pengendalian alih fungsi lahan, hingga tata kelola DAS yang berkelanjutan sangat diperlukan. Bentuk keterlibatan ini dapat diwujudkan melalui kampanye sosial, penulisan opini publik, maupun kolaborasi dengan organisasi lingkungan.

    Pada akhirnya, tragedi banjir bandang di Sumatra merupakan peristiwa yang mengingatkan kita bahwa menjaga alam adalah sebuah komitmen panjang. Sebagai generasi penerus dengan spirit Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, pelajar NU memiliki kesempatan untuk mewariskan Indonesia yang lebih Tangguh, bukan hanya melalui penguatan keimanan, tetapi juga melalui kepedulian ekologis.

    Bencana ini hendaknya tidak berhenti sebagai duka, melainkan menjadi momentum untuk berbenah, menyadari kesalahan, dan bangkit bersama. Alam yang rusak akan selalu memberi respons, entah dengan kesejukan atau peringatan. Tugas kita adalah memastikan bahwa generasi berikutnya tidak lagi menanggung akibat dari kelalaian hari ini.


Oleh: Departemen Kaderisasi PK IPNU-IPPNU UIN Malang 2025-2026

Daftar Pustaka:

BMKG. (2025). Siklon Tropis “SENYAR” Punah, Gelombang Atmosfer Pengaruhi Cuaca Signifikan di Indonesia.

Nugroho, A. (2025). Bencana Banjir Bandang Sumatra, Pakar UGM Sebut Akibat Kerusakan Ekosistem Hutan di Hulu DAS. Univeristas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/bencana-banjir-bandang-sumatra-pakar-ugm-sebut-akibat-kerusakan-ekosistem-hutan-di-hulu-das/

Putra, R. S. (2025). Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air Tanggal 30 November 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). https://www.bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-tanggal-30-november-2025

Zahro, A. A. (2025). Siklon Tropis Senyar Terbentuk, BMKG Minta Siaga Cuaca Ekstrem di Aceh dan Sumut. Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/siklon-tropis-senyar-terbentuk-bmkg-minta-siaga-cuaca-ekstrem-di-aceh-dan-sumut



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Banjir Bandang Menjadi Alarm Ekologis dan Tanggung Jawab Pelajar NU Menjaga Kelestarian Lingkungan Bumi "

Posting Komentar