Memahami Detak Jantung Organisasi Melalui Peran Komunikasi
![]() |
Ilustrasi Kerentanan Pemahaman Motif Komunikasi (Sumber: Lembaga Media Digital dan Jurnalistik PK IPNU-IPPNU UIN MALIKI MALANG) |
Di zaman serba canggih seperti sekarang, komunikasi di
lingkungan organisasi semestinya jadi jauh lebih mudah dan lancar. Kita punya
banyak aplikasi pesan singkat dan media sosial untuk bertukar kabar maupun
berbagi informasi kegiatan kapan saja. Namun anehnya, apa yang terjadi
sehari-hari justru sering berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.
Meskipun pesan bisa terkirim dalam hitungan detik, salah paham atau salah
tafsir masih sering kali terjadi. Hal ini membuktikan bahwa teknologi yang serba
cepat ternyata tidak selalu membuat dinamika pesan keorganisasian jadi lebih
mudah saling dimengerti.
Hal ini dapat dilihat dari pengalaman selama hampir tiga
tahun kuliah sambil aktif berorganisasi, yang pada akhirnya perlahan-lahan
membuka mata saya tentang persoalan komunikasi keorganisasian yang lebih
mendalam. Masalah di organisasi ternyata bukan cuma soal pesan obrolan yang
salah ditangkap dan dipahami, melainkan juga rasa tidak nyaman yang kerap
dirasakan oleh anggota maupun pengurus saat menerima pesan atau informasi.
Kegiatan organisasi yang awalnya ingin dijadikan tempat belajar bersosial, justru
sering kali berubah menjadi beban yang menyesakkan. Masih banyak kebiasaan
komunikasi yang memaksa teman untuk ikut acara dengan dibumbui sindiran, atau
ditakut-takuti jika tidak hadir. Walaupun saya secara pribadi merasa baik-baik
saja dengan cara demikian, tapi apakah yang lain juga merasakan demikian?.
Menurut saya, organisasi yang sehat seharusnya dibangun di
atas rasa saling percaya dan kemauan sendiri, bukan dari paksaan. Organisasi hadir menjadi wadah untuk membantu mahasiswa berproses dalam membentuk pribadi yang
saling peduli, saling menghargai, dan punya rasa tanggung jawab. Saya menyadari
betul bagaimana sulitnya untuk bisa membangun kesadaran para anggota maupun
pengurus untuk bisa hadir di suatu kegiatan, forum, atau perkumpulan. Namun,
alangkah baiknya pendekatan dalam menumbuhkan kesadaran tersebut menggunakan kalimat yang baik dan menghargai
sesama secara perlahan. Hal itu pasti akan membuat hati mereka bisa luluh, yang
kemudian dapat mengikuti kegiatan-kegiatan dengan keikhlasan tanpa adanya unsur
tekanan didalam hatinya.
Karena, mengajak orang dengan cara menekan atau
menakut-nakuti hanya akan melahirkan kehadiran yang pura-pura, “wujuduhu
ka’adamihi”. Ketika teman kita datang ke acara hanya karena takut
disudutkan atau dicap buruk, manfaat dari kegiatan itu sebenarnya sudah hilang.
Badannya memang duduk di ruangan, tetapi pikiran dan kepeduliannya sama sekali
tidak ada di sana. Lama-kelamaan, cara yang terus menekan seperti ini hanya
akan membuat seseorang merasa lelah hati, kehilangan semangat untuk berproses,
dan akhirnya mulai memilih menjauh dari organisasi.
Selain itu, jika kita perhatikan secara sederhana, siapa pun
akan bekerja dan belajar jauh lebih baik ketika hatinya merasa nyaman.
Mahasiswa juga akan selalu memilih kegiatan yang dirasa lebih memberikan
keuntungan kepada mereka, terlebih di zaman sekarang. Sebaliknya, jika suasana
di dalam perkumpulan selalu kaku dan penuh tekanan, orang-orang akan memilih
diam. Mereka hanya akan menjalankan tugas ala kadarnya agar tidak terkena
sanksi sosial, bukan karena tulus ingin mengembangkan organisasi bersama. Oleh
karena itu, efek domino dari hal ini menjadikan kita seringkali menemui
pengurus yang purnatugas (demisioner) gitu-gitu aja, yang mana bisa saja merupakan dampak
berkepanjangan dari iklim komunikasi organisasi yang kurang sehat.
Di sisi lain, kita tentu sangat paham bahwa menjadi pengurus
itu tidak mudah dan punya beban tanggung jawab yang berat. Rasa cemas kalau
acaranya sepi, acaranya tidak menarik, dan sebagainya. Namun kita tetap harus
memahami bahwa dengan adanya kemudahan teknologi serta kapasitas kita sebagai
seorang organisatoris, seharusnya bisa menemukan solusi daripada menambah
masalah baru dengan sesama pengurus atau bahkan anggota organisasi itu sendiri.
Karena seperti yang dikatakan orang-orang, bahwa jangan sampai niat yang baik
dari seseorang perlahan dirusak oleh perlakuan yang keliru.
Oleh karena itu, cara kita mengajak dan berkomunikasi di
organisasi perlu diubah menjadi lebih ramah dan menghargai sesama. Kita betul-betul
harus bisa membedakan kapan waktunya untuk tegas, dan kapan waktunya untuk
santai. Daripada sibuk menuntut dan menekan, sebagai pengurus sebaiknya duduk
bersama dan menjelaskan tujuan kegiatan secara perlahan, terbuka, dan jujur.
Berikan ruang yang ramah bagi anggota untuk bercerita jika memang sedang ada
halangan atau kesibukan lain. Ketika orang diajak dengan cara yang baik,
disentuh hatinya, dan dihargai kondisinya, mereka pasti akan ikut terlibat
dengan sukarela tanpa penuh keterpaksaan.
Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, maka dapat ditegaskan kembali bahwa kekuatan utama sebuah organisasi terletak pada kemampuannya menjadi tempat pulang yang mampu mengayomi dan menyambut hangat bagi setiap orang di dalamnya. Berorganisasi bukanlah ajang untuk saling unjuk kuasa atau sebagainya, melainkan perjalanan untuk belajar saling memanusiakan sesama manusia. Pada akhirnya, menjaga suasana yang nyaman dalam kehidupan berorganisasi adalah tugas kita bersama. Meskipun terkadang mengalami kesulitan, namun mewujudkan beberapa hal yang telah disebut diatas bukanlah suatu kemustahilan, insya Allah dimanapun kita berproses, baik di organisasi maupun di masyarakat, kita dapat menjadi seorang pengurus yang mampu memahami pengurus lain, terlebih anggota-anggotanya. Kita juga dapat berusaha untuk selalu bermanfaat dan memberikan dampak bagi organisasi, aamiin.
Penulis: M. Luthfi Luqman Al Mustofa
Editor: Muhammad Raihan Naufal Ash Shidiqy

0 Response to " Memahami Detak Jantung Organisasi Melalui Peran Komunikasi "
Posting Komentar