Sowan Jumat Pagi, Momen Pelajar Bersandar pada Kehangatan Sang Guru
![]() |
| Sowan Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad (Sumber: Dokumentasi PK IPNU IPPNU UIN Malang) Pagi syahdu membelai raga-raga yang
menaiki motor di jalanan. Sinar mentari merayap ke atas cakrawala bersamaan
munajat-munajat para pelajar. Rimbun dedaunan mendayu santun menyimak para
pelajar yang tersenyum atas kehadiran Sang Guru. Ruang tamu itu menjadi saksi
atas rona-rona ke-tawadhu-an mereka. Suasana senang menggebu-gebu di
hati para pelajar. Kalam-kalam Sang Guru turut merayakan kesenangan hati
mereka. Sederhana namun menuntun pada ketentraman. Sederhana namun menghidupkan
pijar-pijar terang lampu jalan kehidupan. Euforia tersebut tumbuh subur di
lingkungan Pondok Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek, Kota Malang. Pagi
itu, tepatnya di hari Jumat pagi, rombongan pelajar NU bergegas menuju kediaman
Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad. Mereka bergabung dalam barisan yang
memadati halaman kediaman Dr. KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag. Langkah-langkah
mereka begitu ringan, seakan rindu telah lama dipendam dan kini saatnya untuk
dilepaskan. Satu
per satu pelajar NU mulai memasuki ruang tamu dengan tertib. Tangan-tangan
mereka terulur untuk mencium tangan Sang Guru sembari menundukkan kepala
sebagai tanda ta'dzim. Ruang tamu yang semula sunyi, perlahan dipenuhi
oleh gelak canda dan tawa hangat antara guru dan murid. Sesekali terdengar
candaan ringan dari Sang Guru yang menambah kehangatan suasana pagi itu. Raut
wajah para pelajar NU tampak sumringah, seolah menemukan kembali
ketenangan yang selama ini mereka rindukan. Di
tengah pertemuan itu, Sang Guru turut memberikan kalam-kalam hikmah kepada para
pelajar. Dengan suara yang lembut namun penuh wibawa, beliau mengingatkan
pentingnya menjaga adab di atas segala ilmu yang telah dipelajari. Nasihat
sederhana tersebut seolah menjadi cahaya yang menuntun langkah para pelajar,
mengingatkan mereka bahwa ilmu tanpa adab hanyalah bayang tanpa makna. Berkunjung kepada guru merupakan tradisi yang sudah lumrah dilakukan oleh para pelajar. Bahkan, hal ini sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya sejak masa Nabi Muhammad SAW. Banyak sekali sahabat-sahabat yang ketika resah akan kehidupannya, mereka menemui Nabi. Selain itu, bahkan kunjungan mereka juga ada yang didasari oleh rasa rindu. Kunjungan seperti ini dalam budaya Jawa dan pesantren, sering kali disebut sebagai sowanan, yang mana merupakan suatu kegiatan berkunjung atau bertamu kepada guru yang didasarkan sebagai bentuk hormat, silaturrahmi, dan mengharap berkah. Sowanan bukanlah sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah sarana spiritual dan etika untuk menyambung batin antara murid dan guru. Sebagaimana pohon yang tumbuh menjulang tinggi, tentunya memiliki akar yang kokoh. Maka dari itu, sudah sepatutnya ketika pelajar semakin tinggi menaiki tangga status sosial, mereka tidak melupakan akarnya yang telah berjasa memberikan sifat kokoh pada pertumbuhannya. Hari
Jumat dipilih sebagai hari untuk melakukan sowanan karena merupakan hari
yang mulia bagi umat muslim. Sebagaimana Imam Syafii dan Imam Ahmad
meriwayatkan hadits dari Sa'ad bin 'Ubadah: سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ
مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ
اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ
تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا
أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ
تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ
وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ
الْجُمُعَةِ “Artinya: Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat.
Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya Fithri. Di dalam Jumat
terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan
mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di
dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di
dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa
atau memutus tali shilaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada
Malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu
kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat”. Hadits
ini menunjukkan bahwa Hari Jumat memiliki banyak keutamaan. Hari Jumat
seakan-akan bertransformasi sebagai hujan keberkahan bagi umat muslim. Oleh
karena itu, pemilihan hari Jumat untuk sowan kepada guru bukan sekadar
persoalan memilih waktu, melainkan bentuk penghormatan terhadap hari yang
memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Jumat dipandang sebagai hari yang
agung dan penuh keberkahan, di dalamnya terdapat waktu yang mustajab untuk
berdoa serta berbagai peristiwa penting dalam perjalanan manusia. Bagi seorang pelajar, sowan kepada guru pada hari Jumat dapat dimaknai sebagai ikhtiar untuk menemui guru dalam suasana yang penuh keberkahan, sekaligus memohon ilmu, nasihat, doa, dan rida sebagai bekal dalam menuntut ilmu. Tradisi tersebut juga mencerminkan kesadaran bahwa hubungan antara pelajar dan guru tidak hanya dibangun melalui proses pembelajaran, tetapi juga melalui adab, penghormatan, dan penghargaan terhadap keberkahan waktu. Tradisi
sowanan yang terus hidup hingga kini menjadi bukti bahwa hubungan guru
dan murid tidak pernah lekang oleh zaman. Sebagaimana akar yang menopang
kokohnya sebuah pohon, sowan menjadi pengingat bagi para pelajar untuk tidak
pernah melupakan jasa dari mereka yang telah menuntun jalan menuju cahaya ilmu.
Pada akhirnya, kehangatan yang terjalin antara guru dan murid setiap hari Jumat
ini bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan nilai yang terus dijaga dan
dirawat dari generasi ke generasi. Penulis: Muhammad Raihan Naufal Ash Shidiqy Referensi: https://islam.nu.or.id/jumat/dalil-keutamaan-hari-jumat-XB4Tt |

0 Response to " Sowan Jumat Pagi, Momen Pelajar Bersandar pada Kehangatan Sang Guru "
Posting Komentar