::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Halus Namun Menentukan: Puasa Lisan sebagai Bentuk Tirakat Diri



Sumber Gambar: Jakarta Islamic Centre

        Jika Indonesia diibaratkan sebagai sebuah taman, maka pondok pesantren adalah bunga-bunga yang menebarkan keharuman nilai, ilmu, dan akhlak. Dari pesantren itulah lahir keindahan yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menenangkan jiwa. Dalam tradisi pesantren, istilah ‘tirakat’ ditempatkan sebagai sebuah pengalaman latihan spiritual yang menguji keteguhan hati dan disiplin diri. Tidak hanya diterapkan oleh seorang santri, setiap individu yang hidup bermasyarakat agaknya perlu menerapkan ini. Bentuknya beragam: puasa, tahajud, memperbanyak zikir, atau menyederhanakan hidup.

Namun di antara berbagai praktik lahiriah tersebut, terdapat tirakat yang sering luput dari perhatian karena sifatnya yang halus namun menentukan—yaitu puasa lisan. Puasa lisan bukan sekadar diam, melainkan melatih diri untuk menahan terlontarnya ucapan yang merugikan orang lain. Dalam tulisan ini saya berpendapat bahwa tirakat diri yang paling hakiki adalah puasa lisan, karena dari lisan kita tercermin kebersihan hati dan tanggung jawab sosial.

Tirakat dalam konteks kehidupan santri dan pesantren adalah usaha sadar untuk menundukkan nafsu dan membersihkan jiwa melalui disiplin spiritual. Tujuannya bukan sekadar menahan diri secara fisik, melainkan membentuk budi pekerti, kerendahan hati, dan kepekaan terhadap nilai-nilai agama. Di lingkungan pesantren, tirakat dipandang sebagai media pembelajaran batin yang melengkapi pembelajaran intelektual.

Puasa lisan, pada dasarnya, berarti menjaga tutur kata agar tidak menyakiti, tidak mengumpat, dan tidak mengatakan hal yang membawa mudhorot. Ia melampaui konsep puasa yang umum dipahami—menahan lapar dan dahaga—karena menyasar pada dimensi komunikasi dan etika sosial. Puasa lisan menuntut kesadaran bahwa setiap kata memiliki dampak—dapat membangun atau menghancurkan, menyucikan atau mengotori. Dalam kaitannya dengan tirakat, puasa lisan menjadi praktik pengendalian diri yang menata batin agar lebih reflektif, penuh empati, dan bertanggung jawab dalam bermasyarakat.

Secara personal, puasa lisan membawa dampak pembersihan hati. Ketika berlatih menahan komentar negatif, kita mengurangi ruang untuk prasangka, kebencian, dan dendam. Kesabaran tumbuh karena kemampuan menahan keinginan untuk bereaksi instan; kualitas ibadah meningkat karena hati menjadi lebih tenang dan fokus.

Secara sosial, manfaatnya begitu terasa: puasa lisan menjadi fondasi keharmonisan antarindividu. Dengan menghindari ghibah (membicarakan keburukan orang lain) dan fitnah, relasi antarindividu menjadi lebih aman, saling percaya, dan produktif. Kelompok yang menjunjung etika berucap mencegah polarisasi, desas-desus yang merusak, serta konflik yang berakar dari kata-kata tidak bertanggung jawab. Nilai ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan adab berbicara dan larangan mencari-cari kesalahan sesama (lihat QS. Al-Hujurat [49]:12). Hadis Nabi juga mengingatkan agar yang beriman memilih berkata baik atau diam (HR. Bukhari & Muslim), yang menegaskan betapa krusialnya menjaga lisan sebagai bagian dari iman.

Dengan demikian, puasa lisan bukan tindakan pasif; ia adalah tirakat aktif yang menjaga kualitas hubungan sosial sekaligus memurnikan niat dan hati. Dalam dunia pesantren, pembiasaan ini menjadi pelajaran karakter yang tak ternilai untuk kehidupan bermasyarakat. Refleksi menjadi titik awal: sejauh mana kita sadar terhadap penggunaan lisan? Berapa sering kita tanpa sengaja ikut menyebarkan cerita negatif dengan dalih “berbagi informasi”? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pengingat untuk jujur menilai kebiasaan berbicara sehari-hari.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh KH. Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, “Allah SWT menciptakan satu mulut dan dua telinga pada seseorang supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara, supaya kita lebih banyak mencari pitutur daripada mituturi, supaya kita lebih banyak membaca sebelum menulis.” Petuah ini menjadi cermin bagi kita untuk menimbang betapa besar tanggung jawab yang melekat pada lisan. Lisan dapat menjadi sumber pahala yang tiada tara, namun juga dapat menjadi sebab terjerumusnya seseorang dalam dosa jika tidak dikendalikan.

Implementasi praktis puasa lisan bisa sederhana namun konsisten: menolak bergabung dalam pembicaraan yang menjatuhkan orang lain, menahan diri ketika marah dan memilih mengatur napas sebelum berbicara, mengganti omongan negatif dengan doa, nasihat, atau langkah konkret untuk membantu sesama.

Tirakat yang sejati bukan sekadar pengorbanan fisik, melainkan kematangan batin yang tampak melalui kontrol atas lisan. Puasa lisan adalah tirakat yang paling mendasar karena menyentuh hubungan manusiawi dan kualitas iman. Dengan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain, bukan hanya bentuk membersihkan hati, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan mewujudkan etika kenabian dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:

https://share.google/images/uj4bZqG7IgmOn79FD

https://lampung.nu.or.id/opini/tirakat-suatu-bentuk-spiritual-dari-pesantren-48CP9

https://fcep.uii.ac.id/blog/menjagalisan/#:~:text=Menjaga%20Lisan%20dapat%20dilakukan%20dengan,sudah%20dipaparkan%20dapat%20memberikan%20manfaat.


Oleh: Keysha Alea 

Editor: Siti Ma'rifatul Musa'adah



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Halus Namun Menentukan: Puasa Lisan sebagai Bentuk Tirakat Diri "

Posting Komentar