::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Learning Without Hurting: Belajar Berani Menghadapi Bullying di Era Krisis Kepercayan Diri

 


Sumber Gambar: Pinterest

“Bullying bukan hanya soal kekerasan fisik, kata-kata negatif yang menyakitkan, ejekan, atau pengucilan juga bisa meninggalkan luka yang mendalam bagi sebagian orang.” Fenomena bullying masih banyak terjadi di berbagai lingkungan, termasuk sekolah, pesantren, dan universitas. Padahal, lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang bagi pembentukan akhlak dan karakter, tempat di mana nilai kasih sayang, ukhuwah, dan saling menghormati seharusnya tumbuh dengan subur.

Berdasarkan data hasil penelitian survei oleh IDN Times (2025), dari 285 responden generasi Z dan milenial, sebanyak 56,5% menyatakan diri sebagai korban perundungan. Selain itu, riset di Kota Batam oleh Pusat Studi Kesehatan Mental Universitas Batam (2024) menunjukkan bahwa 42% remaja korban bullying/hate speech mengalami gejala depresi, dan 15% di antaranya pernah melakukan percobaan bunuh diri. Baru-baru ini juga publik dikejutkan oleh kasus bunuh diri seorang mahasiswa di salah satu universitas di Bali akibat tekanan dan perundungan yang dialaminya. Kasus tersebut menjadi cerminan nyata bahwa krisis kepercayaan diri di kalangan generasi muda sudah memasuki tahap mengkhawatirkan.

Faktor penyebabnya antara lain rasa minder, kurangnya kepercayaan diri, pola asuh keras, dan lingkungan sosial yang cenderung menormalisasi hinaan atau ejekan.Salah satu strategi pencegahan bullying adalah melalui pendidikan, percaya diri dan peningkatan kesadaran sosial.

Dalam hal ini, santri berperan penting sebagai teladan moral dan intelektual di kalangan generasi muda. Ilmu tidak hanya diukur dari seberapa banyak buku yang dihafal atau seberapa luas wawasan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan untuk mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menjaga lisan serta perbuatan. Sebab, ilmu tanpa kebijaksanaan justru bisa menjadi boomerang dan menjerumuskannya pada kesombongan, merendahkan orang lain, bahkan tanpa sadar menjadi pelaku perundungan.

Oleh sebab itu, pentingnya menanamkan kepercayaan diri yang dilandasi dengan pengembangan spiritual dan keterampilan sosial. Belajar tanpa menyakiti, bagaimana membangun diri ini menjadi kuat tanpa harus menjatuhkan orang lain. Dalam kehidupan, menghadapi segala sesuatu rintangan memang berat dan menakutkan. Namun Allah berfirman dalam surah Surah Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Begitu pula dalam Al-Insyirah ayat 6 disebutkan:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا


Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Kedua ayat ini menegaskan bahwa setiap ujian, termasuk pengalaman pahit seperti bullying, memiliki jalan keluar yang dapat ditempuh dengan sabar, percaya diri, dan doa yang tulus. Jika kita menjadi korban, maka langkah bijaknya bukan diam, melainkan berani bersuara dan mencari pertolongan dari guru, pengasuh, atau teman yang dapat dipercaya. Sebaliknya, jika melihat orang lain dirundung, jadilah penolong, bukan penonton.

Banyak kasus bullying bermula dari rasa minder atau kurangnya kepercayaan pada diri. Allah berfirman dalam surah ar’ra’d ayat

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ  

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Begitu juga dengan sabda Rasulullah ﷺ:

“Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

Ayat dan hadis ini mengajarkan bahwa perubahan selalu berawal dari diri sendiri bukan orang lain. Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik melainkan dengan usaha dan jerih payahnya sendiri. Maka ketika seorang muslim berada dalam lingkaran bullying, sikap yang seharusnya muncul bukanlah diam hingga mencoba bunuh diri, melainkan berani bertindak dengan cara yang bijak baik dengan berbicara, membuka komunikasi dengan keluarga, guru, atau pihak berwenang.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ tatkala menghadapi cemoohan dan tekanan, namun tetap membalasnya dengan akhlak mulia. Inilah keteladanan sejati, menghadapi kebencian tanpa menumbuhkan kebencian baru, menolak perundungan tanpa kehilangan kasih sayang, dan membangun kekuatan diri tanpa menyakiti orang lain.

Santri yang bijak bukan hanya pandai dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menghadirkan kedamaian di sekitarnya. Namun, mengapa harus santri yang menjadi garda terdepan dalam menolak fenomena ini? Karena santri adalah wakil nilai-nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat. Di pundak santri melekat tanggung jawab moral untuk menjaga martabat ilmu dan menebarkan kasih sayang. Santri terbiasa hidup dalam lingkungan yang menekankan adab sebelum ilmu, sopan santun dalam bergaul, serta menghormati guru dan teman.

Maka, jika santri mampu menampilkan keteladanan dalam bersikap dan bertutur, hal itu menjadi dakwah nyata, menunjukkan bahwa Islam bukan hanya diajarkan, tapi juga diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari. Lebih dari itu, santri masa kini tidak lagi terbatas pada lingkup pesantren saja. Mereka juga hadir di sekolah, universitas, hingga ruang digital yang luas. Melalui website, media sosial, dan forum-forum publik, santri berkesempatan besar untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, membangun narasi positif, berbagi pengetahuan, dan menebarkan semangat anti-bullying di tengah derasnya arus informasi. Dengan cara ini, santri tidak hanya menjadi penjaga ilmu, tetapi juga penjaga akhlak dan cahaya harapan bagi peradaban.


Oleh: Fitrohul Iliyin
Editor: Keysha Alea


Referensi:

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2023). Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR). Jakarta: KemenPPPA. https://kemenpppa.go.id

IDN Times. (2025). Survei Generasi Z dan Milenial tentang Pengalaman Perundungan di Indonesia. Diakses 29 Oktober 2025 dari https://www.idntimes.com.

Media Mahasiswa Indonesia (2025) Bullying dan Hate Speech di Kalangan Pemuda Kota Batam: Krisis yang Mengintai di Balik Kemajuan. Diakses 29 Oktober 2025. https://mahasiswaindonesia.id/bullying-dan-hate-speech-di-kalangan-pemuda-kota-batam-krisis-yang-mengintai-di-balik-kemajuan/

Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 286.
Sumber tafsir: NU Online – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 286: Allah Tidak Membebani Manusia di Luar Kemampuannya

Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11.
Sumber tafsir: Era.id – Kandungan Surat Ar-Ra’d Ayat 11: Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu Kaum Kecuali Mereka Sendiri yang Mengubahnya

 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Learning Without Hurting: Belajar Berani Menghadapi Bullying di Era Krisis Kepercayan Diri "

Posting Komentar