Learning Without Hurting: Belajar Berani Menghadapi Bullying di Era Krisis Kepercayan Diri
“Bullying bukan hanya soal
kekerasan fisik, kata-kata negatif yang menyakitkan, ejekan, atau pengucilan
juga bisa meninggalkan luka yang mendalam bagi sebagian orang.” Fenomena bullying masih banyak terjadi di berbagai lingkungan,
termasuk sekolah, pesantren, dan universitas. Padahal, lembaga pendidikan seharusnya
menjadi ruang bagi pembentukan akhlak dan karakter, tempat di mana nilai kasih
sayang, ukhuwah, dan saling menghormati seharusnya tumbuh dengan subur.
Berdasarkan data hasil
penelitian survei oleh IDN Times (2025), dari 285 responden generasi Z dan
milenial, sebanyak 56,5% menyatakan diri sebagai korban perundungan. Selain
itu, riset di Kota Batam oleh Pusat Studi Kesehatan Mental Universitas Batam
(2024) menunjukkan bahwa 42% remaja korban bullying/hate speech
mengalami gejala depresi, dan 15% di antaranya pernah melakukan percobaan bunuh
diri. Baru-baru ini juga publik dikejutkan oleh kasus bunuh diri
seorang mahasiswa di salah satu universitas di Bali akibat tekanan dan
perundungan yang dialaminya. Kasus tersebut menjadi cerminan nyata
bahwa krisis kepercayaan diri di kalangan generasi muda sudah memasuki tahap
mengkhawatirkan.
Faktor penyebabnya antara
lain rasa minder, kurangnya kepercayaan diri, pola asuh keras, dan lingkungan
sosial yang cenderung menormalisasi hinaan atau ejekan.Salah
satu strategi pencegahan bullying adalah melalui pendidikan, percaya diri dan peningkatan
kesadaran sosial.
Dalam hal ini, santri berperan
penting sebagai teladan moral dan intelektual di kalangan generasi muda. Ilmu
tidak hanya diukur dari seberapa banyak buku yang dihafal atau seberapa luas
wawasan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan untuk mengendalikan diri,
menghormati sesama, dan menjaga lisan serta perbuatan. Sebab, ilmu tanpa
kebijaksanaan justru bisa menjadi boomerang dan menjerumuskannya pada
kesombongan, merendahkan orang lain, bahkan tanpa sadar menjadi pelaku
perundungan.
Oleh sebab
itu, pentingnya menanamkan kepercayaan diri yang dilandasi dengan pengembangan
spiritual dan keterampilan sosial. Belajar tanpa menyakiti, bagaimana membangun diri ini menjadi kuat tanpa harus
menjatuhkan orang lain.
Dalam kehidupan, menghadapi segala sesuatu rintangan memang berat dan
menakutkan. Namun Allah berfirman dalam surah Surah Al-Baqarah
ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Begitu pula dalam Al-Insyirah
ayat 6 disebutkan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Kedua
ayat ini menegaskan bahwa setiap ujian, termasuk pengalaman pahit seperti bullying,
memiliki jalan keluar yang dapat ditempuh dengan sabar, percaya diri, dan doa
yang tulus. Jika kita menjadi korban, maka langkah bijaknya bukan diam,
melainkan berani bersuara
dan mencari pertolongan dari guru, pengasuh, atau teman yang dapat dipercaya.
Sebaliknya, jika melihat orang lain dirundung, jadilah penolong, bukan
penonton.
Banyak
kasus bullying bermula dari rasa minder atau kurangnya kepercayaan pada
diri. Allah berfirman dalam surah ar’ra’d ayat
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri."
Begitu juga dengan
sabda Rasulullah ﷺ:
“Seorang mukmin
yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)
Ayat dan hadis ini
mengajarkan bahwa perubahan selalu
berawal dari diri sendiri bukan orang lain. Allah SWT tidak
akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik melainkan dengan usaha dan
jerih payahnya sendiri. Maka ketika seorang muslim berada dalam lingkaran bullying,
sikap yang seharusnya muncul bukanlah diam hingga mencoba bunuh diri, melainkan
berani bertindak dengan cara yang
bijak baik dengan berbicara, membuka komunikasi dengan
keluarga, guru, atau pihak berwenang.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ tatkala menghadapi
cemoohan dan tekanan, namun tetap membalasnya dengan akhlak mulia. Inilah
keteladanan sejati, menghadapi kebencian tanpa menumbuhkan kebencian baru,
menolak perundungan tanpa kehilangan kasih sayang, dan membangun kekuatan diri
tanpa menyakiti orang lain.
Santri
yang bijak bukan hanya pandai dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menghadirkan
kedamaian di sekitarnya. Namun, mengapa harus santri yang menjadi garda terdepan dalam menolak fenomena
ini? Karena santri adalah wakil
nilai-nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat. Di
pundak santri melekat tanggung jawab moral untuk menjaga martabat ilmu dan
menebarkan kasih sayang. Santri terbiasa hidup dalam lingkungan yang menekankan
adab sebelum ilmu, sopan santun dalam bergaul, serta menghormati guru dan
teman.
Maka,
jika santri mampu menampilkan keteladanan dalam bersikap dan bertutur, hal itu
menjadi dakwah nyata, menunjukkan bahwa Islam bukan hanya diajarkan, tapi juga diimplementasikan
dalam perilaku sehari-hari. Lebih dari itu, santri masa kini tidak lagi terbatas pada lingkup
pesantren saja. Mereka juga hadir di sekolah, universitas,
hingga ruang digital yang luas. Melalui website, media sosial, dan forum-forum
publik, santri berkesempatan besar untuk menyebarkan
nilai-nilai Islam, membangun narasi positif, berbagi
pengetahuan, dan menebarkan semangat anti-bullying di tengah derasnya
arus informasi. Dengan cara ini, santri tidak hanya menjadi penjaga ilmu,
tetapi juga penjaga akhlak dan cahaya harapan bagi peradaban.
Oleh: Fitrohul Iliyin
Editor:
Keysha Alea
Referensi:
Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
(2023). Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR).
Jakarta: KemenPPPA. https://kemenpppa.go.id
IDN
Times. (2025). Survei Generasi Z dan Milenial tentang
Pengalaman Perundungan di Indonesia. Diakses 29 Oktober 2025 dari https://www.idntimes.com.
Media
Mahasiswa Indonesia (2025) Bullying dan Hate Speech
di Kalangan Pemuda Kota Batam: Krisis yang Mengintai di Balik Kemajuan. Diakses
29 Oktober 2025. https://mahasiswaindonesia.id/bullying-dan-hate-speech-di-kalangan-pemuda-kota-batam-krisis-yang-mengintai-di-balik-kemajuan/
Al-Qur’an
Surat Al-Baqarah ayat 286.
Sumber tafsir: NU
Online – Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 286: Allah Tidak Membebani Manusia di
Luar Kemampuannya
Al-Qur’an
Surat Ar-Ra’d ayat 11.
Sumber tafsir: Era.id
– Kandungan Surat Ar-Ra’d Ayat 11: Allah Tidak Akan Mengubah Nasib Suatu
Kaum Kecuali Mereka Sendiri yang Mengubahnya

0 Response to " Learning Without Hurting: Belajar Berani Menghadapi Bullying di Era Krisis Kepercayan Diri "
Posting Komentar