PK IPNU-IPPNU UIN Malang Hadirkan Ruang Belajar Inklusif dalam Kuliah Kaderisasi Vol. 1
Dalam upaya menumbuhkan kembali semangat kader muda yang baru bergabung,
Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU UIN Malang menggelar Kuliah Kaderisasi Volume 1
sebagai ruang belajar yang hangat, reflektif, dan penguatan nilai. Kegiatan ini
berlangsung di Masjid Ulul Albab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan diikuti
oleh 165 anggota baru. Forum semi-formal ini tidak hanya bertujuan
memperkenalkan struktur dan dinamika organisasi, tetapi juga mengajak para
peserta menautkan nilai, pengalaman, serta harapan mereka sebagai generasi
penerus IPNU-IPPNU. Bagi para peserta MAKESTA, kegiatan ini tak hanya sekadar
pemenuhan Rencana Tindak Lanjut (RTL); mereka dipandu untuk memahami jati diri
organisasi secara lebih hidup dan membumi.
Dengan mengangkat tema “Mahasiswa
Aswaja Inklusif dalam Pikiran dan Teguh Prinsip”, suasana kegiatan
dirancang untuk mengajak peserta mendengar, berdiskusi, sekaligus merefleksikan
realitas sosial yang mereka jumpai sebagai mahasiswa dan kader muda. Interaksi
yang cair dan dialogis membuat Kuliah Kaderisasi Vol. 1 jauh dari kesan
formalitas program kerja yang kerap melekat pada forum organisasi.
Ketua PK IPPNU UIN Malang,
Rekanita Ajilni Diini, dalam sambutannya menegaskan bahwa berorganisasi tidak
boleh berhenti pada kegiatan seremonial. “Setiap kegiatan adalah upaya
menjalankan tiga ranah organisasi yang sejalan dengan Tri Dharma perguruan
tinggi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara ranah
sosio-kultural, sosio-kemasyarakatan, dan sosio-intelektual.
Senada dengan itu, Ketua
Pelaksana Kuliah Kaderisasi menekankan bahwa forum ini merupakan momentum bagi
peserta untuk kembali mengenal ruh IPNU-IPPNU—tentang siapa mereka, apa tujuan
gerakan, serta nilai apa yang mesti dijaga selama perjalanan mereka sebagai
kader.
Materi inti disampaikan
oleh Yoga Klody Arianto, S.Pd., yang sukses membangun suasana ruang menjadi
lebih hidup, interaktif, dan reflektif. Ia mengingatkan bahwa organisasi adalah
ruang pengembangan intelektual dan emosional, bukan sekadar tempat berkegiatan.
“IPNU-IPPNU basisnya masyarakat, bukan partai politik,” tegasnya. Ia juga
menyinggung tantangan pendidikan Indonesia yang membutuhkan kepekaan serta
kontribusi aktif dari generasi muda.
Dalam pemaparannya, Rekan Yoga memperkenalkan konsep ‘tiga empati’:
- Empati masa lalu, untuk menghargai nilai
perjuangan pendahulu,
- Empati masa kini, untuk memahami tanggung
jawab kader hari ini,
- Empati masa depan, untuk memikirkan
keberlanjutan kaderisasi bagi generasi selanjutnya.
Sebagai penutup, pemateri menyampaikan kalimat yang menjadi refleksi
bersama:
“Jadilah indah yang massal, jangan menjadi indah yang tunggal. Karena
menjadi indah tapi tunggal adalah wajah keegoisan.” Kader IPNU-IPPNU
dibentuk agar tumbuh bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk bersama, dalam
gerakan yang inklusif, teguh prinsip, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
0 Response to " PK IPNU-IPPNU UIN Malang Hadirkan Ruang Belajar Inklusif dalam Kuliah Kaderisasi Vol. 1 "
Posting Komentar