Kerentanan Posisi Generasi Muda dalam Menyikapi Perkembangan Zaman
![]() |
| Ilustrasi – Pemuda yang Bingung Menyikapi Zaman Kontemporer (Sumber: Gemini AI) |
|
Perubahan zaman yang berkembang masif kerap
menempatkan generasi muda pada persimpangan jalan yang membingungkan. Krisis
yang dihadapi hari ini tidak lagi sebatas persoalan ekologi atau dinamika
sosial di permukaan, melainkan telah menyentuh aspek yang paling mendasar
dalam kehidupan manusia: pergeseran moral, degradasi spiritual, dan hilangnya
keotentikan dalam bersikap. Generasi muda yang seharusnya menjadi motor
penggerak peradaban kini berhadapan dengan gelombang ujian yang siap mengikis
nilai-nilai kebaikan jika tidak dilandasi oleh kompas hidup yang kokoh. |
Salah satu fenomena yang patut dicermati
adalah bagaimana kepedulian sosial kini kerap terjebak dalam batas-batas
formalitas. Misalnya, wadah generasi muda dalam program perguruan tinggi
seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), sejatinya dirancang untuk mendidik mahasiswa
agar menyatu dengan masyarakat dan peka terhadap lingkungan. Namun, dalam
kenyataannya, banyak di antara kegiatan tersebut hanya berjalan sebatas gugur
kewajiban atau demi menuntaskan target program kerja semata. Ketika program
usai, pertanyaan mendasar muncul: apakah nilai-nilai kepedulian dan keadaban
itu benar-benar mengakar? Sering kali, usai bersikap santun di depan publik,
sikap terhadap tetangga kos, lingkungan sekitar, maupun masyarakat sehari-hari
kembali acuh tak acuh.
Realitas ini diperparah oleh kondisi
lingkungan pendidikan tinggi itu sendiri. Label-label keagamaan yang disematkan
pada institusi kerap kali tidak otomatis menjadi benteng yang steril dari
perbuatan negatif. Fenomena judi online, pergaulan bebas, hingga perbuatan zina
tetap menyusup dan memengaruhi tatanan sosial mahasiswa. Niat awal dalam
menuntut ilmu mengalami pergeseran makna yang memprihatinkan, orientasi mencari
serta mengamalkan ilmu yang manfaat tergantikan oleh dorongan Fear of
Missing Out (FOMO), sekadar mengejar status, atau sekadar
ikut-ikutan tren sosial.
Di sisi lain, kemajuan teknologi digital hadir
sebagai pisau bermata dua. Secara fungsional, teknologi memberikan kemudahan
luar biasa dalam komunikasi dan ekonomi. Namun, sebagai alat yang digerakkan
oleh manusia yang penuh kekhilafan, panggung digital hari ini lebih banyak
didominasi oleh pergeseran nilai kemanusiaan. Demi mengejar angka popularitas
dan kepuasan paparan visual, tidak sedikit yang dengan bangga mempertontonkan
hal-hal yang melanggar batas kesopanan dan agama. Kehormatan diri dipertaruhkan
demi konten, sementara budaya malu kian terkikis.
Dampak merugikan ini tidak hanya berhenti
pada usia dewasa, tetapi telah menjangkau generasi muda di bawah umur.
Kemahiran generasi muda dalam mengoperasikan media digital sering kali tidak
diimbangi dengan kedewasaan moral. Mereka begitu cepat mempelajari hal-hal
negatif: membuat akun-akun palsu untuk menyamarkan identitas, mengakses
situs-situs yang memicu syahwat, hingga terjebak dalam kecanduan digital yang
perlahan melemahkan kepekaan spiritual. Keterpakuan pada layar digital membuat
generasi muda perlahan terlena, melupakan hakikat tujuan hidup, dan mengabaikan
kesadaran akan kehidupan akhirat.
Menghadapi krisis yang sedemikian kompleks
ini, langkah pertama yang harus diambil adalah keberanian untuk bermuhasabah dan
menerima kritik sosial secara terbuka. Budaya masyarakat yang cenderung menilai
kebenaran dari pangkat, status, atau latar belakang seseorang harus dibenahi.
Nasihat dan teguran baik kerap dipandang sebelah mata hanya karena datang dari
orang yang dianggap tidak berkedudukan. Padahal, kebenaran tetaplah kebenaran
dari mana pun datangnya, dan ingatan akan kebaikan adalah nikmat yang patut
disyukuri untuk memperbaiki diri.
Pada akhirnya, tidak ada figur yang sempurna
untuk dijadikan tolok ukur dalam mengarungi badai zaman ini selain Rasulullah
SAW. Mengembalikan fungsi generasi muda bukan dilakukan dengan mengikuti arus
kemewahan dan kepalsuan dunia digital, melainkan dengan meluruskan kembali niat
hidup, merendahkan hati untuk terus belajar, serta memegang teguh adab dan
moralitas. Hanya dengan kesadaran muhasabah yang tulus serta pijakan pada ridha
Allah SWT, generasi muda dapat berdiri tegak di tengah krisis zaman tanpa
kehilangan arah dan jati dirinya.
Penulis:
Ahmad Zaqqi Zidanul Karim
Editor: Najla Nur Kamilatul Qodri

0 Response to " Kerentanan Posisi Generasi Muda dalam Menyikapi Perkembangan Zaman "
Posting Komentar