::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Kerentanan Posisi Generasi Muda dalam Menyikapi Perkembangan Zaman

 

Ilustrasi – Pemuda yang Bingung Menyikapi Zaman Kontemporer
(Sumber: Gemini AI)

Perubahan zaman yang berkembang masif kerap menempatkan generasi muda pada persimpangan jalan yang membingungkan. Krisis yang dihadapi hari ini tidak lagi sebatas persoalan ekologi atau dinamika sosial di permukaan, melainkan telah menyentuh aspek yang paling mendasar dalam kehidupan manusia: pergeseran moral, degradasi spiritual, dan hilangnya keotentikan dalam bersikap. Generasi muda yang seharusnya menjadi motor penggerak peradaban kini berhadapan dengan gelombang ujian yang siap mengikis nilai-nilai kebaikan jika tidak dilandasi oleh kompas hidup yang kokoh.

Salah satu fenomena yang patut dicermati adalah bagaimana kepedulian sosial kini kerap terjebak dalam batas-batas formalitas. Misalnya, wadah generasi muda dalam program perguruan tinggi seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), sejatinya dirancang untuk mendidik mahasiswa agar menyatu dengan masyarakat dan peka terhadap lingkungan. Namun, dalam kenyataannya, banyak di antara kegiatan tersebut hanya berjalan sebatas gugur kewajiban atau demi menuntaskan target program kerja semata. Ketika program usai, pertanyaan mendasar muncul: apakah nilai-nilai kepedulian dan keadaban itu benar-benar mengakar? Sering kali, usai bersikap santun di depan publik, sikap terhadap tetangga kos, lingkungan sekitar, maupun masyarakat sehari-hari kembali acuh tak acuh.

Realitas ini diperparah oleh kondisi lingkungan pendidikan tinggi itu sendiri. Label-label keagamaan yang disematkan pada institusi kerap kali tidak otomatis menjadi benteng yang steril dari perbuatan negatif. Fenomena judi online, pergaulan bebas, hingga perbuatan zina tetap menyusup dan memengaruhi tatanan sosial mahasiswa. Niat awal dalam menuntut ilmu mengalami pergeseran makna yang memprihatinkan, orientasi mencari serta mengamalkan ilmu yang manfaat tergantikan oleh dorongan Fear of Missing Out (FOMO), sekadar mengejar status, atau sekadar ikut-ikutan tren sosial.

Di sisi lain, kemajuan teknologi digital hadir sebagai pisau bermata dua. Secara fungsional, teknologi memberikan kemudahan luar biasa dalam komunikasi dan ekonomi. Namun, sebagai alat yang digerakkan oleh manusia yang penuh kekhilafan, panggung digital hari ini lebih banyak didominasi oleh pergeseran nilai kemanusiaan. Demi mengejar angka popularitas dan kepuasan paparan visual, tidak sedikit yang dengan bangga mempertontonkan hal-hal yang melanggar batas kesopanan dan agama. Kehormatan diri dipertaruhkan demi konten, sementara budaya malu kian terkikis.

Dampak merugikan ini tidak hanya berhenti pada usia dewasa, tetapi telah menjangkau generasi muda di bawah umur. Kemahiran generasi muda dalam mengoperasikan media digital sering kali tidak diimbangi dengan kedewasaan moral. Mereka begitu cepat mempelajari hal-hal negatif: membuat akun-akun palsu untuk menyamarkan identitas, mengakses situs-situs yang memicu syahwat, hingga terjebak dalam kecanduan digital yang perlahan melemahkan kepekaan spiritual. Keterpakuan pada layar digital membuat generasi muda perlahan terlena, melupakan hakikat tujuan hidup, dan mengabaikan kesadaran akan kehidupan akhirat.

Menghadapi krisis yang sedemikian kompleks ini, langkah pertama yang harus diambil adalah keberanian untuk bermuhasabah dan menerima kritik sosial secara terbuka. Budaya masyarakat yang cenderung menilai kebenaran dari pangkat, status, atau latar belakang seseorang harus dibenahi. Nasihat dan teguran baik kerap dipandang sebelah mata hanya karena datang dari orang yang dianggap tidak berkedudukan. Padahal, kebenaran tetaplah kebenaran dari mana pun datangnya, dan ingatan akan kebaikan adalah nikmat yang patut disyukuri untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, tidak ada figur yang sempurna untuk dijadikan tolok ukur dalam mengarungi badai zaman ini selain Rasulullah SAW. Mengembalikan fungsi generasi muda bukan dilakukan dengan mengikuti arus kemewahan dan kepalsuan dunia digital, melainkan dengan meluruskan kembali niat hidup, merendahkan hati untuk terus belajar, serta memegang teguh adab dan moralitas. Hanya dengan kesadaran muhasabah yang tulus serta pijakan pada ridha Allah SWT, generasi muda dapat berdiri tegak di tengah krisis zaman tanpa kehilangan arah dan jati dirinya.


Penulis: Ahmad Zaqqi Zidanul Karim

Editor: Najla Nur Kamilatul Qodri


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Kerentanan Posisi Generasi Muda dalam Menyikapi Perkembangan Zaman "

Posting Komentar