Menjaga Arah di Tengah Arus Kehidupan Modern
![]() |
| Ilustrasi – Pondok Menjelma sebagai Tim SAR yang Menolong Orang-Orang Hanyut (Sumber: Lembaga Media Digital dan Jurnalistik PK IPNU-IPPNU UIN MALIKI MALANG) |
Refleksi tentang memilih tetap mondok di tengah kehidupan mahasiswa yang serba cepat dan mudah terbawa arus.
Aku tidak
mau membahas “Islam ala aku”, ya. Ilmuku juga belum sampai situ. Aku cuma mau cerita kenapa sampai sekarang
aku masih memilih mondok, meskipun kalau ditanya rajin atau tidak, jawabannya
ya… nggak rajin-rajin amat. Justru karena aku tahu diriku sendiri:
gampang lupa sama hal-hal yang sebenarnya ingin kujaga dan gampang terbawa
arus.
“Terbawa arus” yang kumaksud juga bukan cuma soal
ikut tren atau terlalu lama scroll media sosial. Kadang ia
sesederhana kebiasaan buruk yang dibiarkan, emosi yang gampang meledak, ngomong
seenaknya ketika capek, atau ikut sesuatu yang sebenarnya kita sendiri tahu tidak
baik. Aku aja masih sering begitu, padahal masih ada yang mengingatkan. Kadang
aku mikir, kalau tidak ada yang mengingatkan sama sekali, mungkin aku bisa
lebih kebablasan.
Hidup
sebagai mahasiswa sekarang memang sibuk. Ada kuliah, tugas, organisasi, grup
yang tidak pernah benar-benar sepi, media sosial, AI, tren, sampai
pencapaian orang lain yang tiap hari bisa lewat di layar gadget. Lucunya, alat yang kita pakai buat menumbuhkan
dan buat kabur dari produktivitas sering kali sama. Niat buka laptop untuk
mengerjakan tugas, beberapa menit kemudian sudah pindah ke tab lain.
Niat buka HP sebentar, tahu-tahu sudah terlalu lama melihat hal yang sebenarnya
tidak perlu.
Kadang masalahnya bukan kita kekurangan informasi,
tapi justru kebanyakan. Semuanya ada, semuanya lewat, semuanya kayak
minta dilihat. Lama-lama kepala ikut penuh dan perhatian gampang pindah ke
mana-mana. Belum lagi media sosial membuat hidup orang lain terasa begitu dekat
untuk dirasakan: ada yang wisuda, punya pencapaian baru, ikut kegiatan, atau
terlihat sudah punya arah hidup yang jelas. Kalau tidak hati-hati, kita bisa
ikut membandingkan diri sendiri tanpa sadar.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku masih
memilih mondok. Buatku, mondok semacam tempat buat nge-charge
iman. Bukan berarti habis ngaji terus besoknya langsung jadi manusia paling
baik. Tidak juga. Kadang masih males, masih terdistraksi, masih ngomel,
masih sibuk mikirin hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Jadi nge-charge-nya
memang tidak sekali terus penuh selamanya.
Aku pernah nyatet waktu ngaji kitab. Waktu itu ustadz menjelaskan kalau wirid berkaitan dengan sesuatu
yang dirutinkan, dan hal itu bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dari situ aku jadi mikir, mungkin memang
ada hal-hal yang tidak cukup dilakukan sekali terus selesai. Bukan karena
sekali itu tidak berarti, tapi karena manusianya gampang lupa. Aku juga begitu.
Hari ini bisa merasa kena banget sama satu nasihat, besok sudah sibuk lagi
dengan urusan lain.
Karena
itu, aku sering membayangkan pondok kayak pagar di pinggir jalan. Aku bukan lurus karena mondok. Aku masih
bisa oleng, salah arah, atau hampir kebablasan. Tapi setidaknya ada yang
nahan supaya tidak jatuh terlalu jauh. Pagar itu tidak membuat
perjalanan otomatis aman, tapi keberadaannya tetap berarti ketika kita mulai
kehilangan kendali.
Yang bikin aku makin merasa ngaji masih relevan
justru karena catatan-catatan dari ustadz sering kali menjawab masalah
sehari-hari. Aku pernah nyatet, kalau kita tidak mungkin menyenangkan
semua orang dan tidak perlu terlalu sibuk mencari penilaian orang lain.
Kalimatnya sederhana, tapi di zaman media sosial rasanya makin kena dan relate.
Kita bisa melihat hidup orang lain hampir setiap waktu, dan tanpa sadar ikut
memikirkan bagaimana orang melihat hidup kita.
Ada juga catatan bahwa mengingat Allah tidak harus
nunggu momen yang pas. Bagian ini juga terasa relate dengan
kehidupan mahasiswa. Kalau nunggu tugas selesai semua, organisasi sepi, HP tidak
rame, pikiran tenang, dan hidup benar-benar senggang, mungkin tidak akan
pernah ketemu waktu yang “pas”. Justru karena selalu ada kesibukan baru,
hal-hal yang ingin dijaga perlu tetap diselipkan di tengah kehidupan yang
sedang berjalan.
Di situ aku mulai mengerti bahwa tradisi seperti
mondok, ngaji kitab, wirid, atau mendengar penjelasan ustadz tidak otomatis selalu
kalah oleh zaman. Bentuk kehidupan memang berubah. Dulu mungkin orang tidak
punya Instagram atau AI, sekarang kita punya dan aku juga memakainya. Teknologi
membantu banyak hal, termasuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, sampai
membuat konten. Jadi persoalannya bukan tentang harus menjauh dari teknologi.
Yang terpenting adalah justru jangan sampai semua
yang serba cepat itu ikut menentukan arah hidup tanpa kita sadari. Teknologi
bisa dinikmati tanpa harus menjadikan semua yang lewat di layar sebagai sesuatu
yang harus diikuti. Buatku, di sinilah pondok masih punya tempat. Bukan untuk
membuatku lari dari kehidupan modern, tapi untuk mengingatkan lagi ketika
kehidupan modern mulai terlalu ramai.
Aku juga tidak mau bilang semua anak muda harus mondok supaya jadi baik. Tidak semua orang punya keadaan, kesempatan, atau jalan hidup yang sama. Aku pun mondok bukan karena merasa sudah lebih baik dari orang lain. Justru kebalikannya. Aku tahu masih ada banyak bagian dari diriku yang perlu dibenahi, dan aku tahu aku gampang terbawa suasana kalau tidak sering diingatkan.
Buatku, mempertahankan nilai ini di zaman sekarang bukan berarti menolak semua yang baru. Aku tetap bisa kuliah, menikmati teknologi, ikut organisasi, membuka media sosial, dan menjalani kehidupan seperti anak muda lainnya. Yang ingin kujaga adalah supaya semua itu tidak membuatku lupa dengan batas dan arah yang sebenarnya ingin kupegang. Aku bukan ”lurus” karena mondok. Mondok bagiku cuma kayak pagar di pinggir jalan. Dan untuk orang yang masih sering oleng seperti aku, pagar itu masih sangat dibutuhkan untuk terus berdiri kokoh.
Penulis: Faradilla
Arisya Azwa
Editor: Muhammad Raihan Naufal Ash Shidiqy

0 Response to " Menjaga Arah di Tengah Arus Kehidupan Modern "
Posting Komentar