Refleksi Hari Pahlawan: Bangsa yang Terus Belajar, Bangsa yang Tak Pernah Kalah
10 November 1945 menjadi saksi bagaimana masyarakat di Surabaya,
atas nama bangsa Indonesia, melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan
NKRI. Peristiwa itu kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan, yang kita peringati
setiap tahunya dengan berbagai kegiatan seperti upacara bendera, doa bersama,
tabur bunga, hingga berbagai aksi sosial. Hari Pahlawan bukan hanya catatan
sejarah, melainkan momen refleksi yang mengingatkan kita pada tekad,
keberanian, dan pengorbanan para pahlawan. Berdasarkan hasil literatur dan
wawancara dengan tiga responden melalui WhatsApp, peringatan Hari Pahlawan
bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga kesempatan meneladani semangat
pahlawan. Responden pertama menekankan bahwa Hari Pahlawan menjadi waktu untuk
mengenang perjuangan mereka, kemudian responden kedua menyebut peringatan ini
sebagai momen refleksi apakah kita telah menjaga kemerdekaan yang diwariskan,
sedangkan responden ketiga menekankan perlunya menumbuhkan semangat melanjutkan
perjuangan melalui tindakan nyata. Dari ketiga pandangan ini, menunjukkan bahwa
sebagian masyarakat tidak sekadar melakukan seremonial, melainkan berusaha
meneladani semangat para pahlawan.
Semangat kepahlawanan tersebut sejatinya telah berakar kuat dalam
perjalanan sejarah bangsa. Sejarah bangsa mengingatkan kita bahwa perjuangan
selalu dimulai dari kesadaran, pengetahuan, dan tekad untuk bertindak. Pada
1908, lahir organisasi Budi Utomo, tonggak kebangkitan kaum pelajar pribumi
yang mulai menyadari bahwa kemerdekaan tidak akan datang begitu saja. Generasi
muda kala itu memahami bahwa pendidikan dan kesadaran sosial adalah senjata
untuk melawan penindasan. Budi Utomo menjadi simbol bagaimana pengetahuan dan
tekad bersama dapat mempersiapkan masyarakat untuk berkontribusi dalam
pembangunan bangsa. Beberapa dekade kemudian, K.H. Hasyim Asyari menyerukan
Resolusi Jihad 1945, menegaskan bahwa membela tanah air adalah sebagian dari
iman. Fatwa ini menekankan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperoleh dengan
senjata, tetapi melalui kesadaran kolektif dan komitmen moral. Kedua peristiwa sejarah
tersebut menegaskan bahwa perjuangan bangsa lahir dari kesadaran untuk mau belajar,
berinovasi, dan bertindak demi kebaikan bersama, bukan sekedar perlawanan
dengan senjata.
Namun, kenyataan hari ini menunjukkan bahwa perjuangan bangsa
Indonesia belum selesai, musuh kita bukan lagi penjajah berseragam, tetapi
kemalasan dan kebodohan yang tumbuh dari dalam diri. Penelitian Amelia dkk.
(2025) menemukan bahwa banyak mahasiswa cenderung mengurangi usaha saat bekerja
dalam kelompok, menunjukkan rendahnya motivasi bersama. Nabila (2023)
menambahkan bahwa prokrastinasi akademik atau kebiasaan menunda-nunda tugas
terjadi karena kurangnya pengaturan diri dan motivasi belajar, sehingga
kemampuan menyelesaikan pekerjaan dan berpikir kritis menjadi terbatas. Laporan
Kompas (2024) juga menyoroti banyak mahasiswa di NTT yang belum lancar membaca,
menandakan rendahnya literasi di kalangan pemuda. Berdasarkan data tersebut, kemalasan dan kebodohan
bukan hanya mitos belaka, melainkan tantangan nyata yang perlu dilawan
sebagaimana para pahlawan melawan penjajahan.
Meneladani pahlawan berarti memahami konteks perjuangan mereka dan menyesuaikannya dengan tantangan yang kita hadapi hari ini. Sebagai santri, cara kita meneladani semangat para pahlawan adalah dengan menjaga ilmu dan akhlak sebagaimana para kiai menjaga agama dan bangsa. Sebagai pelajar, kita perlu tekun dalam menuntut ilmu dan berpikir kritis demi kemajuan. Sebagai pemuda, berarti kita harus berani berjuang bukan demi nama, tetapi demi nilai dan kebenaran. Di Hari Pahlawan hari ini, kita perlu sadar bahwa perjuangan tidak berhenti pada sejarah, tetapi berlanjut dalam setiap langkah yang kita tempuh. Bangsa yang berhenti belajar perlahan kehilangan kemerdekaannya, dan bangsa yang meneladani semangat pahlawan akan terus maju dengan tekad, kesadaran, dan kontribusi nyata.
Oleh: Moh. Izza Shilahul Hawa
Editor: Keysha Alea
Referensi:
Amelia, C., Maulidya, D. S., & Sinaga, E. B. (2023). Pengaruh Social Loafing terhadap Performa Akademik Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Zona Psikologi 3(2). https://doi.org/10.37776/jizp.v6i3.1455
Nabila, R. . (2023). Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Prokrastinasi Akademik: Studi pada Mahasiswa Perguruan Tinggi. Jurnal Teknologi Pendidikan, 1(2), 10. https://doi.org/10.47134/jtp.v1i2.169
https://www.kompas.id/baca/nusantara/2024/10/15/banyak-mahasiswa-di-ntt-belum-lancar-membaca?utm_source=chatgpt.com
https://nu.or.id/fragmen/hari-santri-dan-sejarah-resolusi-jihad-nu-22-oktober-Glm4y
https://id.wikipedia.org/wiki/Boedi_Oetomo

0 Response to " Refleksi Hari Pahlawan: Bangsa yang Terus Belajar, Bangsa yang Tak Pernah Kalah "
Posting Komentar