::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Refleksi Hari Pahlawan: Bangsa yang Terus Belajar, Bangsa yang Tak Pernah Kalah

 


Sumber Gambar: Detik.com

10 November 1945 menjadi saksi bagaimana masyarakat di Surabaya, atas nama bangsa Indonesia, melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan NKRI. Peristiwa itu kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan, yang kita peringati setiap tahunya dengan berbagai kegiatan seperti upacara bendera, doa bersama, tabur bunga, hingga berbagai aksi sosial. Hari Pahlawan bukan hanya catatan sejarah, melainkan momen refleksi yang mengingatkan kita pada tekad, keberanian, dan pengorbanan para pahlawan. Berdasarkan hasil literatur dan wawancara dengan tiga responden melalui WhatsApp, peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga kesempatan meneladani semangat pahlawan. Responden pertama menekankan bahwa Hari Pahlawan menjadi waktu untuk mengenang perjuangan mereka, kemudian responden kedua menyebut peringatan ini sebagai momen refleksi apakah kita telah menjaga kemerdekaan yang diwariskan, sedangkan responden ketiga menekankan perlunya menumbuhkan semangat melanjutkan perjuangan melalui tindakan nyata. Dari ketiga pandangan ini, menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tidak sekadar melakukan seremonial, melainkan berusaha meneladani semangat para pahlawan.

Semangat kepahlawanan tersebut sejatinya telah berakar kuat dalam perjalanan sejarah bangsa. Sejarah bangsa mengingatkan kita bahwa perjuangan selalu dimulai dari kesadaran, pengetahuan, dan tekad untuk bertindak. Pada 1908, lahir organisasi Budi Utomo, tonggak kebangkitan kaum pelajar pribumi yang mulai menyadari bahwa kemerdekaan tidak akan datang begitu saja. Generasi muda kala itu memahami bahwa pendidikan dan kesadaran sosial adalah senjata untuk melawan penindasan. Budi Utomo menjadi simbol bagaimana pengetahuan dan tekad bersama dapat mempersiapkan masyarakat untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Beberapa dekade kemudian, K.H. Hasyim Asyari menyerukan Resolusi Jihad 1945, menegaskan bahwa membela tanah air adalah sebagian dari iman. Fatwa ini menekankan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperoleh dengan senjata, tetapi melalui kesadaran kolektif dan komitmen moral. Kedua peristiwa sejarah tersebut menegaskan bahwa perjuangan bangsa lahir dari kesadaran untuk mau belajar, berinovasi, dan bertindak demi kebaikan bersama, bukan sekedar perlawanan dengan senjata.

Namun, kenyataan hari ini menunjukkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum selesai, musuh kita bukan lagi penjajah berseragam, tetapi kemalasan dan kebodohan yang tumbuh dari dalam diri. Penelitian Amelia dkk. (2025) menemukan bahwa banyak mahasiswa cenderung mengurangi usaha saat bekerja dalam kelompok, menunjukkan rendahnya motivasi bersama. Nabila (2023) menambahkan bahwa prokrastinasi akademik atau kebiasaan menunda-nunda tugas terjadi karena kurangnya pengaturan diri dan motivasi belajar, sehingga kemampuan menyelesaikan pekerjaan dan berpikir kritis menjadi terbatas. Laporan Kompas (2024) juga menyoroti banyak mahasiswa di NTT yang belum lancar membaca, menandakan rendahnya literasi di kalangan pemuda. Berdasarkan data tersebut, kemalasan dan kebodohan bukan hanya mitos belaka, melainkan tantangan nyata yang perlu dilawan sebagaimana para pahlawan melawan penjajahan.

Meneladani pahlawan berarti memahami konteks perjuangan mereka dan menyesuaikannya dengan tantangan yang kita hadapi hari ini. Sebagai santri, cara kita meneladani semangat para pahlawan adalah dengan menjaga ilmu dan akhlak sebagaimana para kiai menjaga agama dan bangsa. Sebagai pelajar, kita perlu tekun dalam menuntut ilmu dan berpikir kritis demi kemajuan. Sebagai pemuda, berarti kita harus berani berjuang bukan demi nama, tetapi demi nilai dan kebenaran. Di Hari Pahlawan hari ini, kita perlu sadar bahwa perjuangan tidak berhenti pada sejarah, tetapi berlanjut dalam setiap langkah yang kita tempuh. Bangsa yang berhenti belajar perlahan kehilangan kemerdekaannya, dan bangsa yang meneladani semangat pahlawan akan terus maju dengan tekad, kesadaran, dan kontribusi nyata. 


Oleh: Moh. Izza Shilahul Hawa

Editor: Keysha Alea 

Referensi:

Amelia, C., Maulidya, D. S., & Sinaga, E. B. (2023). Pengaruh Social Loafing terhadap Performa Akademik Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Zona Psikologi 3(2). https://doi.org/10.37776/jizp.v6i3.1455

Nabila, R. . (2023). Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Prokrastinasi Akademik: Studi pada Mahasiswa Perguruan Tinggi. Jurnal Teknologi Pendidikan, 1(2), 10. https://doi.org/10.47134/jtp.v1i2.169 

https://www.kompas.id/baca/nusantara/2024/10/15/banyak-mahasiswa-di-ntt-belum-lancar-membaca?utm_source=chatgpt.com

https://nu.or.id/fragmen/hari-santri-dan-sejarah-resolusi-jihad-nu-22-oktober-Glm4y

https://id.wikipedia.org/wiki/Boedi_Oetomo



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Refleksi Hari Pahlawan: Bangsa yang Terus Belajar, Bangsa yang Tak Pernah Kalah "

Posting Komentar