Paranoid Solidarity: Ketika Rasa Memiliki Berubah Menjadi Mekanisme Pertahanan
Solidaritas sering membuat sebuah organisasi terasa hangat dan
penuh kebersamaan. Namun, bagaimana jika kebersamaan tersebut malah membuat
kita takut untuk untuk mengakui sebuah kesalahan?.
Organisasi adalah ruang belajar yang tidak hanya mengajarkan bagaimana
cara merencanakan dan merealisasikan program kerja saja, tetapi juga
mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang bisa bertanggung jawab terhadap
setiap pilihan. Dalam proses itu, ada dinamika yang tak terpisahkan:
kebersamaan dalam menjalani berbagai pengalaman, mulai dari tantangan hingga
momen penuh tawa. Dari sinilah kemudian tumbuh apa yang kita sebut sebagai
solidaritas. Ia hadir secara alami, terbangun dari suka dan duka yang dilalui
bersama, dan tak jarang menjadi alasan kuat mengapa seseorang memilih untuk
tetap bertahan di dalam sebuah organisasi.
Ibarat kata, solidaritas adalah bahan bakar organisasi dalam
mencapai sebuah tujuan. Namun, apakah organisasi yang mempunyai solidaritas
tinggi selalu dapat dikatakan organisasi yang baik?. Mari
kita melihat sebuah realita. Ketika salah satu bagian dari organisasi (misalnya
salah satu anggota atau departemen) melakukan kesalahan yang mengakibatkan kritik
dari publik.
Bagi mereka yang memahami makna solidaritas, tentunya yang pertama
dilakukan adalah sadar diri, dilanjutkan saling mengingatkan dan diakhiri
dengan perbaikan. Sayangnya, beberapa dari kita memahami solidaritas dengan keliru. Ketika
kritik muncul akibat sebuah kesalahan, kita malah sibuk menjadi garda terdepan
untuk menutupi kesalahan.
“Gapapa, emang mereka aja yang gafaham apa yang kita lakukan”
“Gausah didengerin, mereka emang bisanya cuma komen”
“Seenggaknya kita sudah usaha, kalo mereka gabisa menghargai
yaudah biarin aja”
Kalimat-kalimat seperti itu tidak sepenuhnya salah. Namun,
menjadi kurang tepat ketika dijadikan kebiasaan dan terus digunakan sebagai
pembenaran setiap kali terjadi kesalahan. Menariknya, hal
seperti itu telah dibahas dalam kajian psikologi yaitu Paranoid Solidarity,
perasaan takut akan dikucilkan dan dibenci ketika tidak satu suara dengan
mayoritas. Ketakutan seperti itulah yang kemudian membuat penerapan
solidaritas bergeser dari makna aslinya, membela teman yang salah dianggap
sebagai solidaritas kesetiaan dan membela organisasi yang salah dikatakan
menjaga citra diri organisasi.
Alih alih menguatkan, solidaritas yang dibangun di atas kebohongan kolektif perlahan akan membunuh karakter organisasi. Kita lupa bahwa ruang belajar yang sesungguhnya tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kejujuran untuk mengakui setiap kesalahan. Karena pada akhirnya, solidaritas yang baik bukan yang menutupi kekeliruan, tetapi yang berani untuk saling mengingatkan.
Oleh: Moh. Izza Shilahul Hawa
Editor: Keysha Alea
.png)
0 Response to " Paranoid Solidarity: Ketika Rasa Memiliki Berubah Menjadi Mekanisme Pertahanan "
Posting Komentar