::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Paranoid Solidarity: Ketika Rasa Memiliki Berubah Menjadi Mekanisme Pertahanan

 


Sumber Gambar: Gemini AI

Solidaritas sering membuat sebuah organisasi terasa hangat dan penuh kebersamaan. Namun, bagaimana jika kebersamaan tersebut malah membuat kita takut untuk untuk mengakui sebuah kesalahan?.

Organisasi adalah ruang belajar yang tidak hanya mengajarkan bagaimana cara merencanakan dan merealisasikan program kerja saja, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang bisa bertanggung jawab terhadap setiap pilihan. Dalam proses itu, ada dinamika yang tak terpisahkan: kebersamaan dalam menjalani berbagai pengalaman, mulai dari tantangan hingga momen penuh tawa. Dari sinilah kemudian tumbuh apa yang kita sebut sebagai solidaritas. Ia hadir secara alami, terbangun dari suka dan duka yang dilalui bersama, dan tak jarang menjadi alasan kuat mengapa seseorang memilih untuk tetap bertahan di dalam sebuah organisasi.

Ibarat kata, solidaritas adalah bahan bakar organisasi dalam mencapai sebuah tujuan. Namun, apakah organisasi yang mempunyai solidaritas tinggi selalu dapat dikatakan organisasi yang baik?. Mari kita melihat sebuah realita. Ketika salah satu bagian dari organisasi (misalnya salah satu anggota atau departemen) melakukan kesalahan yang mengakibatkan kritik dari publik.

Bagi mereka yang memahami makna solidaritas, tentunya yang pertama dilakukan adalah sadar diri, dilanjutkan saling mengingatkan dan diakhiri dengan perbaikan. Sayangnya, beberapa dari kita memahami solidaritas dengan keliru. Ketika kritik muncul akibat sebuah kesalahan, kita malah sibuk menjadi garda terdepan untuk menutupi kesalahan.

Gapapa, emang mereka aja yang gafaham apa yang kita lakukan

Gausah didengerin, mereka emang bisanya cuma komen

Seenggaknya kita sudah usaha, kalo mereka gabisa menghargai yaudah biarin aja

Kalimat-kalimat seperti itu tidak sepenuhnya salah. Namun, menjadi kurang tepat ketika dijadikan kebiasaan dan terus digunakan sebagai pembenaran setiap kali terjadi kesalahan. Menariknya, hal seperti itu telah dibahas dalam kajian psikologi yaitu Paranoid Solidarity, perasaan takut akan dikucilkan dan dibenci ketika tidak satu suara dengan mayoritas. Ketakutan seperti itulah yang kemudian membuat penerapan solidaritas bergeser dari makna aslinya, membela teman yang salah dianggap sebagai solidaritas kesetiaan dan membela organisasi yang salah dikatakan menjaga citra diri organisasi.

Alih alih menguatkan, solidaritas yang dibangun di atas kebohongan kolektif perlahan akan membunuh karakter organisasi. Kita lupa bahwa ruang belajar yang sesungguhnya tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kejujuran untuk mengakui setiap kesalahan. Karena pada akhirnya, solidaritas yang baik bukan yang menutupi kekeliruan, tetapi yang berani untuk saling mengingatkan.

Oleh: Moh. Izza Shilahul Hawa

Editor: Keysha Alea

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Paranoid Solidarity: Ketika Rasa Memiliki Berubah Menjadi Mekanisme Pertahanan "

Posting Komentar