Mengenal Prinsip Perjuangan IPNU dan 9 Citra Diri IPPNU serta Implementasinya di Ranah Perguruan Tinggi
Sebagai pelajar NU, sudahkah kita benar-benar berjalan dan berpegang teguh pada Prinsip Perjuangan IPNU serta 9 Citra Diri IPPNU?
Apa itu Prinsip Perjuangan IPNU?
Prinsip Perjuangan IPNU merupakan konsepsi ideologis IPNU yang menjadi landasan berpikir, bertindak, dan berorganisasi.
Prinsip Perjuangan IPNU
adalah konsep dasar yang menjadi kompas ideologis bagi setiap kader dalam berpikir, bersikap, bertindak, dan berorganisasi. Prinsip ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan identitas gerakan yang membentuk cara kader IPNU memahami dunia dan menjalankan peran sosialnya.
Prinsip Perjuangan sebagai Landasan Berpikir
Landasan berpikir IPNU dibangun dari tiga sumber pengetahuan sekaligus:
a. Dalil Naqli
Pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Dalil ini memberikan arah moral dan spiritual, sehingga setiap pemikiran tetap berada dalam koridor ajaran Islam.
b. Dalil Aqli
Pemikiran yang lahir dari akal sehat, logika, dan proses analisis ilmiah. IPNU memandang akal sebagai instrumen penting untuk memahami realitas secara objektif.
c. Dalil Waqi’i
Pengalaman sosial dan fakta lapangan. IPNU tidak hanya berteori, tetapi juga belajar dari kondisi masyarakat dan perjalanan sejarah.
Karena memadukan ketiganya, IPNU menolak dua ekstrem:
Cara berpikir liberal yang hanya mengandalkan akal bebas tanpa landasan wahyu.
Cara berpikir materialis yang hanya mengakui kebenaran ilmiah dan pengalaman empiris, tanpa ruang bagi nilai spiritual.
Model berpikir seperti ini sejalan dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mengutamakan keseimbangan antara teks, akal, dan realitas.
Prinsip Perjuangan sebagai Landasan Bersikap
Sikap kader IPNU dibangun dari nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah yang diikat oleh empat pilar dasar Aswaja (tawassuth, tawazun, tasamuh, i’tidal). Nilai itu kemudian dijabarkan menjadi lima sikap utama:
Diiniyyah – berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan yang moderat.
Akademis – menjunjung objektivitas, etika intelektual, dan kejujuran ilmiah.
Nasionalis – cinta tanah air, menjaga persatuan, dan menjunjung Pancasila serta NKRI.
Keikhlasan dan Loyalitas – mengabdi pada organisasi tanpa pamrih dan menjaga komitmen.
Kemanusiaan – memiliki empati, solidaritas sosial, dan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk bermartabat.
Landasan bersikap ini membuat kader IPNU tidak hanya “tau teori”, tetapi juga menunjukkan how to behave di tengah masyarakat kampus maupun komunitas sosial.
Prinsip Perjuangan sebagai Landasan Bertindak
Dalam melakukan gerakan sosial, program kerja, ataupun pemberdayaan masyarakat, IPNU menggunakan pedoman Mabadi’ al-Khomsah, yaitu lima prinsip dasar akhlak berorganisasi:
Al-Shidqu – jujur dalam perkataan dan tindakan.
Al-Amanah wal Wafa bil ‘Ahd – dapat dipercaya dan menepati janji.
Al-‘Adalah – bersikap adil dan proporsional.
Al-Ta’awun – mengedepankan kerja sama dan tolong-menolong.
Al-Istiqamah – konsisten menjalankan tugas dan tidak mudah menyerah.
Dengan prinsip ini, tindakan kader IPNU tidak sekadar aktif, tetapi juga etis, bertanggung jawab, dan memiliki basis moral yang kuat.
Prinsip Perjuangan sebagai Landasan Berorganisasi
Dalam menjalankan roda organisasi, IPNU mempraktikkan tujuh prinsip utama yang membentuk budaya organisasi:
a. Ukhuwwah
Ikatan persaudaraan dalam empat dimensi:
Ukhuwwah Nahdliyah
Ukhuwwah Islamiyyah
Ukhuwwah Wathaniyyah
Ukhuwwah Basyariyyah
Artinya, IPNU membangun hubungan vertikal dan horizontal secara luas—dari sesama warga NU hingga seluruh umat manusia.
b. Amanah
Setiap jabatan adalah tanggung jawab, bukan gelar semata. Kinerja lebih penting daripada jabatan.
c. Khidmah
Pengabdian sebagai ciri utama kader, bukan sekadar hadir rapat atau memegang jabatan.
d. Kolaborasi
IPNU tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan sekolah, kampus, organisasi lain, hingga pemerintah merupakan strategi kunci gerakan.
e. Keterpimpinan Organisasi
Menumbuhkan kader yang mampu memimpin dengan integritas, bukan otoritas. Leadership di sini berbasis keteladanan, bukan kekuasaan.
f. Kritik-Otokritik
IPNU memberi ruang untuk evaluasi dan perbaikan diri. Kritik bukan ancaman, melainkan alat pertumbuhan organisasi.
g. Learning Organization
IPNU berfungsi sebagai organisasi pembelajaran: terus belajar, terus memperbaiki, dan terus tumbuh sesuai perkembangan zaman.
Apa itu 9 Citra Diri IPPNU?
Selain Prinsip Perjuangan IPNU, kader perempuan NU juga memiliki pedoman karakter yang dikenal dengan 9 Citra Diri IPPNU.
Taqwa kepda Allah SWT
Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
Berkarakter Islam ahlusunnah wal jama’ah an-nahdliyah
Berakhlaqul karimah dan berjiwa pemimpin
Berilmu, berwawasan, dan berpikir kritis
Kesalingan dan kepedulian terhadap sesama
Kasih sayang dan peduli terhadap alam
Amanah, setia, dan menjaga martabat organisasi
Berintegritas, mandiri, dan berdaya
Taqwa kepada Allah SWT
Taqwa bukan cuma soal ritual, tapi sikap hidup. Dalam nilai ini kita IPPNU dituntut menjadikan nilai ilahi sebagai kompas moral: jujur dalam segala spek kehidupan, menghargai proses, dan sadar bahwa ilmu yang dipelajari pada akhirnya kembali kepada Allah. Taqwa jadi pondasi karakter, bukan hanya slogan.
Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kesetiaan kepada NKRI berarti siap menjaga persatuan di tengah perbedaan. Sebagai pelajar NU yang juga mahasiswa kita harus melek isu sosial–politik meskipun tidak harus terjun ke dunia politik itu sneidri, kritis pada ketidakadilan, dan sekaligus berkontribusi menjaga ruang publik tetap damai. Setia pada negara bukan berarti anti kritik; justru kritik membangun adalah wujud cinta tanah air.
Berkarakter Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah
Sebagai pelajar NU yang juga mahasiswa , karakter Aswaja an-Nahdliyah tercermin dalam cara berpikir moderat, rasional, dan terbuka. Tidak gampang terjebak narasi ekstrem atau agama instan. Sikap tawasuth, tasamuh, dan tawazun diterjemahkan dalam diskusi akademik, pergaulan kampus, dan sikap toleran terhadap perbedaan.
Berakhlaqul Karimah dan Berjiwa Pemimpin
Akhlaq mulia itu bukan cuma teori, tapi perilaku sehari-hari: menghargai teman, tepat waktu, sopan dalam diskusi, dan berani meminta maaf. Jiwa kepemimpinan mahasiswa terlihat dari keberanian mengambil keputusan, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kesadaran bahwa memimpin itu melayani, bukan mencari panggung.
Berilmu, Berwawasan, dan Berpikir Kritis
Sebagai pelajar NU yang juga mahasiswa, lewat nilai ini kita dituntut harus punya semangat belajar yang luas—bukan hanya menguasai materi kuliah, tapi juga membaca situasi zaman. Berpikir kritis berarti berani bertanya, skeptis terhadap informasi yang tidak jelas, dan mampu mengolah pengetahuan menjadi solusi. Sikap ini penting agar kader NU tidak gagap menghadapi isu global.
Kesalingan dan Kepedulian terhadap Sesama
Nilai ini mengajak kita untuk membangun budaya saling menguatkan. Kepedulian bisa dimulai dari hal sederhana: menolong teman yang kesulitan, mendengar curhat tanpa menghakimi, atau aktif dalam kegiatan sosial. Solidaritas menjadi bukti bahwa kita tidak hidup sendiri dan bahwa organisasi kuat karena anggotanya saling peduli.
Kasih Sayang dan Peduli terhadap Alam
Sebagai generasi yang hidup di era krisis iklim, kita juga harus punya kesadaran ekologis. Peduli lingkungan bukan tren, tapi kebutuhan: mengurangi sampah plastik, hemat energi, ikut kegiatan penghijauan, atau minimal tidak buang sampah sembarangan. Kita juga harus tampil sebagai pelopor etika ekologis.
Amanah, Setia, dan Menjaga Martabat Organisasi
Amanah di level pelajar NU yang juga mahasiswa berarti bisa dipercaya mengerjakan program, selalu berusaha menyelesaikan tugas organisasi tepat waktu dan tidak menyalahgunakan jabatan. Kesetiaan kepada organisasi bukan fanatisme, tetapi komitmen untuk menjaga nama baik dan memberikan kontribusi positif. Martabat organisasi terjaga ketika anggotanya menjaga sikap, baik di dunia nyata maupun digital.
Berintegritas, Mandiri, dan Berdaya
Integritas adalah modal utama pelajar NU yang juga mahasiswa: jujur, konsisten, dan tidak mudah terbeli oleh kepentingan. Kemandirian terlihat dari cara mengatur waktu, menyelesaikan masalah sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihan. Berdaya berarti mampu bersuara, memimpin program kerja , dan menghasilkan karya nyata bagi masyarakat.
Sumber :
Draft Hasil Kongres XX IPNU 2022-2025
Draft hasil Konbes IPPNU tahun 2024
0 Response to " Mengenal Prinsip Perjuangan IPNU dan 9 Citra Diri IPPNU serta Implementasinya di Ranah Perguruan Tinggi "
Posting Komentar