Ketika Kaderisasi Berpindah ke Layar : Menakar Efektivitas Digitalisasi IPNU-IPPNU
Perkembangan media digital membuat cara organisasi menjangkau generasi muda ikut berubah. Kaderisasi yang sebelumnya banyak dilakukan melalui pertemuan tatap muka kini dapat dilakukan dengan bantuan media digital. IPNU dan IPPNU pun mulai memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mengenalkan organisasi, menampilkan kegiatan, hingga menarik minat calon kader. Namun, apakah digitalisasi benar – benar membuat proses kaderisasi menjadi lebih efektif ?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kaderisasi bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang tertarik bergabung, tetapi juga bagaimana nilai – nilai organisasi dapat dipahami dan diterapkan oleh kader dalam kehidupan nyata.
Sekretaris PCNU Kota Malang, Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., memandang digitalisasi sebagai salah satu media yang dapat digunakan dalam proses kaderisasi. Menurutnya, cara penyampaian kaderisasi dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, baik secara tatap muka maupun digital. Hal yang paling penting adalah nilai – nilai organisasi tetap dapat dipahami dan diimplementasikan oleh kader.
“Pola kaderisasi itu harus mampu mentransfer dan mentransformasikan nilai – nilai yang ada di dalam organisasi”, jelasnya.
Pandangan tersebut membuat efektivitas digitalisasi tidak dapat diukur hanya dari seberapa sering organisasi menggunakan media digital. Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., menilai bahwa digitalisasi pada dasarnya hanya berfungsi sebagai media. Efektivitasnya kembali pada bagaimana kader memahami, menyikapi, dan mampu mengimplementasikan nilai – nilai gerakan organisasi.
Dari sisi kelebihan, kaderisasi melalui media digital dinilai lebih praktis dan mudah. Penggunaan media digital juga dapat menghemat biaya serta waktu dan dianggap sesuai dengan kehidupan saat ini yang semakin dekat dengan teknologi.
Namun, kemudahan tersebut memiliki sisi lain. Interaksi emosional antara organisasi dan kader menjadi salah satu hal yang sulit digantikan melalui layar. Menurut Muhammad Yunus, organisasi perlu memahami dan mengenal karakter setiap individu di dalamnya. Hal tersebut lebih mudah dilakukan melalui pertemuan secara langsung.
Karena itu, tidak semua proses kaderisasi dapat dilakukan secara digital. Pembaiatan, aksi sosial, serta praktik atau tugas yang bersifat psikomotorik tetap membutuhkan interaksi langsung. Sementara itu, materi yang dapat dibaca, didengar, dan dipahami secara mandiri dapat dilakukan melalui media digital.
Pandangan dari tingkat NU tersebut kemudian terlihat dalam praktik di tingkat PK IPNU IPPNU, Nadiya Shofwah, salah satu pengurus PK IPPNU UIN Malang dan aktif sebagai pengurus cabang IPPNU Kota Malang, menjelaskan bahwa kaderisasi terdiri atas kaderisasi formal dan nonformal. Menurutnya, kaderisasi melalui media digital dapat masuk dalam kaderisasi nonformal.
Bagi nadiya, proses kaderisasi bukan hanya tentang menarik anggota sebanyak – banyaknya, tetapi juga bagaimana organisasi mendapatkan anggota dengan kualitas yang baik. Salah satu cara dapat dilakukan adalah menampilkan kader IPNU-IPPNU yang memiliki prestasi sebagai bagian dari branding organisasi.
“Media digital ini sebagai branding untuk menarik khalayak umum, dan itu sangat efektif, terutama di tingkat PK”, ujar Nadiya.
Nadiya juga menilai media sosial menjadi salah satu cara yang efektif untuk menarik kader baru. Menurutnya, generasi saat ini banyak berasal dari Generasi Z yang cenderung cepat merespons informasi. Konten yang dikemas dengan menarik dapat membuat generasi muda memberikan respons positif terhadap organisasi.
Meski dinilai efektif, penggunaan media digital tetap menghadirkan tantangan. Nadiya menyebut kesalapahaman sebagai salah satu persoalan yang dapat muncul dalam komunikasi digital. Selain itu, konten organisasi juga menghadapi kemungkinan tidak dilirik atau mendapatkan komentar negatif.
Lebih jauh, Nadiya menilai digitalisasi sudah efektif dalam proses kaderisasi, tetapi konten IPNU-IPPNU masih kurang menarik. Menurutnya, konten yang dibuat selama ini masih berpatokan pada IPNU-IPPNU dan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan generasi muda.
Temuan tersebut menjadi berbeda ketika dilihat dari perspektif non-kader IPNU-IPPNU. subjek berinisial UW, seorang non-kader, mengaku tidak mengenal IPNU-IPPNU melalui media sosial. Bahkan, ia menyebut sangat jarang menemukan konten IPNU-IPPNU ketika sedang menggunakan media sosial.
“Tidak, bahkan bisa dibilang sangat jarang ada konteks media sosial IPNU-IPPNU yang saya temukan saat scroll di sosial media”, ungkap UW.
Meski demikian, UW mengaku pernah tertarik untuk bergabung dengan organisasi ini karena output yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan maupun kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki. Artinya, ketertarikan terhadap organisasi tidak hanya bergantung pada keberadaan konten digital, tetapi juga pada apa yang ditawarkan organisasi kepada calon anggotanya.
Menurut UW, kegiatan yang menarik juga menjadi salah satu faktor yang dapat membuat organisasi lebih dikenal oleh generasi muda. Media sosial dapat menjadi tempat untuk menampilkan hal tersebut. Ketika sebuah akun organisasi sering muncul dan memiliki hal yang menarik perhatian, generasi muda dapat terdorong untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai siapa mereka, apa kegiatannya, serta apa yang dilakukan organisasi tersebut.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa efektivitas digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan apakah organisasi telah menggunakan media digital, tetapi juga apakah pesan dan konten yang dibuat benar – benar sampai kepada target yang ingin dijangkau.
Dari sisi internal, media digital dinilai mampu membantu branding dan menarik kader baru. Namun, pengalaman UW menunjukkan bahwa keberadaan konten IPNU-IPPNU belum selalu terlihat oleh mahasiswa di luar organisasi. Di sisi lain, Nadiya juga mengakui bahwa konten yang ada masih perlu dibuat lebih menarik dan lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
Digitalisasi membuka peluang bagi IPNU-IPPNU untuk memperluas jangkauan kaderisasi. Media digital menawarkan proses komunikasi yang lebih praktis, mudah, hemat biaya, dan efisien dari segi waktu. Namun, penggunaan media digital juga memiliki batas, terutama dalam membangun kedekatan emosional dan memahami karakter kader secara lebih mendalam.
Karena itu, Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd. menekankan pentingnya keseimbangan antara keterbukaan terhadap perkembangan zaman dan mempertahankan interaksi langsung dalam kaderisasi. Digitalisasi tetap perlu diterima sebagai bagian dari perubahan zaman, tetapi nilai – nilai perjuangan organisasi dan interaksi langsung tidak boleh ditinggalkan.
Pada akhirnya, persoalan IPNU-IPPNU bukan lagi sekedar apakah organisasi perlu hadir di ruang digital atau tidak. Tantangannya adalah bagaimana membuat kehadiran tersebut benar – benar menarik, mudah ditemukan, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
Kaderisasi memang dapat dimulai dari layer, tetapi untuk membuat seseorang benar – benar menjadi kader, tetap dibutuhkan proses untuk bertemu, memahami, dan bergerak Bersama.
Penulis: Nur Abidah Salma - FK IPPNU K.H Wahab Chasbullah
Editor: Najla Nur Kamilatul Qodri

0 Response to " Ketika Kaderisasi Berpindah ke Layar : Menakar Efektivitas Digitalisasi IPNU-IPPNU "
Posting Komentar