Ada yang berubah dari cara generasi hari ini memberi perhatian. Sebuah video singkat
cukup 15 detik untuk membuat seseorang berhenti scroll, tertawa, lalu lanjut ke video
berikutnya. Pola inilah yang kini menjadi standar baru dalam menilai apakah sesuatu
layak diperhatikan atau tidak termasuk, tanpa disadari, organisasi seperti IPNU-
IPPNU yang menuntut komitmen jangka panjang, bukan sekadar tontonan sesaat.
Bagi pelajar dan mahasiswa yang tumbuh dengan algoritma media sosial, atensi
menjadi barang yang mahal dan cepat berpindah. Sesuatu yang tidak langsung
menarik dalam hitungan detik pertama cenderung dilewati.
Masalahnya, organisasi
pelajar seperti IPNU-IPPNU tidak dirancang untuk logika semacam ini. Kaderisasi,
rapat rutin, dan program kerja adalah proses yang berjalan lambat, membutuhkan
kehadiran berulang, dan hasilnya sering kali baru terasa jauh di kemudian hari bukan
instan seperti notifikasi like yang datang beberapa detik setelah unggahan.
Ironisnya, IPNU-IPPNU sebenarnya tidak sedang bersaing dengan organisasi lain
untuk merebut kader. Ia sedang bersaing dengan seluruh isi linimasa: konten hiburan,
game, hingga komunitas daring yang menawarkan validasi instan tanpa perlu
komitmen berkelanjutan. Ketika dibandingkan dengan itu semua, ajakan mengikuti
rapat komisariat atau pelatihan kepemimpinan terasa berat dan lambat bukan karena
kontennya tidak penting, melainkan karena formatnya tidak dirancang untuk ritme
perhatian generasi yang terbiasa dengan kecepatan.
Bukan berarti solusinya adalah mengubah organisasi menjadi selayaknya hiburan
digital. Nilai dan proses kaderisasi tetap punya alasan untuk berjalan sebagaimana
adanya. Namun ada ruang yang bisa digarap: bagaimana pesan tentang pentingnya
berorganisasi, tentang manfaat jangka panjang menjadi kader, dan tentang
kebanggaan menjadi bagian dari IPNU-IPPNU bisa dikemas dalam format yang akrab
dengan kebiasaan mereka sehari-hari tanpa mengubah esensi dari apa yang
ditawarkan organisasi itu sendiri.
Tantangan sesungguhnya bukan membuat kaderisasi secepat video pendek,
melainkan meyakinkan generasi yang terbiasa dengan kepuasan instan bahwa ada
hal-hal yang justru bernilai karena prosesnya tidak instan. Loyalitas, pengalaman
berorganisasi, dan jaringan yang dibangun bertahun-tahun adalah sesuatu yang tidak
bisa didapat dari scroll 15 detik dan menyampaikan pesan ini secara meyakinkan
adalah pekerjaan rumah bagi IPNU-IPPNU ke depan.
Penulis: Zilfiyatus Sholehah - PK IPPNU UIN Maulan Malik Ibrahim Malang
Editor: M. Luthfi Luqman Al Mustofa
0 Response to " Ketika Organisasi Pelajar NU Bersaing dengan Konten 15 Detik "
Posting Komentar