::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Seberapa Siap IPNU-IPPNU Malang Menghadapi Generasi Z?


Ketika sebagian besar aktivitas anak muda berpindah ke layar ponsel, organisasi kepemudaan menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: bagaimana mempertahankan minat generasi muda untuk tetap berorganisasi?

Pertanyaan tersebut juga menjadi tantangan bagi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Malang. Sebagai organisasi pelajar yang menjadi salah satu jalur kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU), IPNU dan IPPNU memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda. Namun, di tengah perubahan karakter Generasi Z yang semakin dekat dengan media sosial, teknologi, dan budaya komunikasi serba cepat, organisasi dituntut tidak hanya mempertahankan kaderisasi, tetapi juga memastikan cara kaderisasi tersebut tetap relevan.

Penelusuran terhadap berbagai publikasi kegiatan IPNU-IPPNU di wilayah Malang selama 2025–2026 menunjukkan bahwa organisasi mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap isu digitalisasi, literasi, pengembangan kapasitas, hingga pengabdian masyarakat.

Namun, di balik berbagai program tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah transformasi itu sudah benar-benar mengubah cara organisasi berinteraksi dengan Gen Z, atau baru sebatas memasukkan kata “digital” ke dalam kegiatan kaderisasi?

Kaderisasi Terus Bergerak

Aktivitas kaderisasi IPNU-IPPNU di wilayah Malang masih menunjukkan geliat yang cukup kuat. Di Kabupaten Malang, Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, menggelar MAKESTA III pada Bulan Juni Tahun 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya membahas Aswaja, Ke-NU-an, keorganisasian, dan kepemimpinan, tetapi juga memasukkan materi jurnalistik dan media. Kader kemudian mengikuti Rencana Tindak Lanjut melalui forum diskusi dan analisis studi kasus. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi mulai diarahkan untuk membekali pelajar dengan kemampuan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Tidak berhenti di tingkat ranting, konsolidasi organisasi juga berlangsung di tingkat cabang. Pada Februari 2026, PR NU se-Kecamatan Dampit bersama PAC IPNU-IPPNU resmi dilantik untuk masa khidmat 2025–2029. Momentum tersebut disebut sebagai bagian dari penguatan konsolidasi organisasi hingga tingkat akar rumput.

Sementara itu, di Kota Malang, IPNU-IPPNU menggelar Konsolidasi Pelajar pada Mei 2025 dengan melibatkan organisasi kepemudaan lintas agama dan komunitas pelajar. Agenda tersebut secara khusus membawa semangat memperkuat peran Generasi Z dalam menghadapi masa depan.

Data tersebut memperlihatkan satu hal, yaitu aktivitas organisasi pelajar NU di Malang tidak sedang berhenti. Justru sebaliknya, berbagai kegiatan kaderisasi dan konsolidasi terus dilakukan. Masalahnya bukan lagi Eksistensi, jika dilihat dari banyaknya kegiatan, pertanyaan apakah IPNU-IPPNU masih aktif sebenarnya relatif mudah dijawab.

Jawabannya: masih.

Tetapi investigasi ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang ada atau tidaknya kegiatan. Persoalan yang lebih penting adalah seberapa relevan kegiatan tersebut dengan kehidupan pelajar hari ini. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi mereka peroleh melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital. Cara mereka belajar, membangun pertemanan, mencari informasi, bahkan mengenal tokoh agama juga mengalami perubahan. Karena itu, keberadaan organisasi secara fisik belum tentu otomatis membuat organisasi tersebut dekat dengan generasi muda.

Organisasi bisa saja aktif mengadakan MAKESTA, rapat, pelantikan, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun jika komunikasi digitalnya tidak menarik atau tidak menyentuh persoalan yang sedang dihadapi pelajar, terdapat kemungkinan adanya jarak antara aktivitas organisasi dan kebutuhan kader.

Kota Malang Mulai Menjawab Tantangan
Di Kota Malang, tanda-tanda perubahan tersebut mulai terlihat.

Dalam Konfercab XXII IPNU-IPPNU Kota Malang pada 2025, organisasi tidak hanya membahas kaderisasi, tetapi juga menekankan pentingnya tradisi literasi di tengah derasnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca. Pada kesempatan tersebut, empat buku karya kader dan alumni Lakut turut diluncurkan.

Langkah ini menarik karena menunjukkan bahwa digitalisasi tidak semata-mata dipahami sebagai penggunaan media sosial. Ada upaya untuk membangun kemampuan intelektual dan literasi kader. Di sisi lain, IPNU-IPPNU Kota Malang juga membawa organisasi keluar dari ruang internal dengan mengadakan konsolidasi bersama OKP lintas agama dan komunitas pelajar. Hal ini memperlihatkan upaya organisasi untuk memosisikan kader sebagai bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas.

Kabupaten Malang: Digitalisasi Mulai Masuk Kaderisasi Perubahan juga terlihat di Kabupaten Malang.

MAKESTA IPNU-IPPNU Sudimoro pada 2026 secara eksplisit menggunakan tema tentang penanaman nilai Aswaja di era digital. Peserta tidak hanya mendapatkan materi ke-NU-an dan keorganisasian, tetapi juga jurnalistik dan media. Metode pembelajaran dibuat interaktif dan peserta didorong untuk berpikir kritis melalui studi kasus.

Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa kader masa kini tidak cukup hanya dibekali pengetahuan organisasi. Mereka juga membutuhkan kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan literasi media. Bahkan pada Januari 2026, kader IPPNU Kabupaten Malang, Safira Ainun Ulumiyah, meraih penghargaan Best Favorite Duta IPPNU Jawa Timur 2026. Dalam proses tersebut, ia membawa pengalaman kaderisasi melalui kegiatan edukasi digital dan menunjukkan bahwa kader IPPNU memiliki ruang untuk berkembang di luar kegiatan organisasi konvensional.

Dari “Aktif Berkegiatan” Menjadi “Aktif Berdampak”

Namun, berbagai fakta tersebut juga memperlihatkan tantangan berikutnya. Organisasi pelajar tidak cukup hanya mengukur keberhasilan dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Yang perlu dilihat adalah dampaknya terhadap kader.

Apakah kader menjadi lebih kritis?
Apakah mereka mampu membuat konten edukatif?
Apakah mereka berani berbicara mengenai persoalan pelajar?
Apakah mereka mampu menggunakan teknologi untuk berdakwah dan melakukan gerakan sosial? Atau justru sebagian besar aktivitas masih berputar pada agenda internal organisasi?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika organisasi sendiri mulai menyadari pentingnya teknologi.

Pada April 2026, Bupati Malang dalam pelantikan PC IPNU XXI dan IPPNU XX Kabupaten Malang mendorong kader agar menjadi penggerak perubahan sekaligus menguasai teknologi. Artinya, tuntutan terhadap kader muda NU saat ini semakin luas. Kader tidak cukup hanya menjadi peserta kegiatan. Mereka dituntut mampu menjadi pelajar yang berdaya, komunikatif, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Tantangan Terbesar Ada di Layar

Jika organisasi ingin benar-benar menjadi rumah bagi Gen Z, maka media sosial tidak dapat diperlakukan hanya sebagai tempat dokumentasi. Media sosial harus menjadi ruang kaderisasi. Konten tentang Aswaja, ke-NU-an, pendidikan, kesehatan mental, lingkungan, kepemudaan, hingga persoalan sosial perlu dikemas dengan bahasa yang dapat diterima anak muda. Sebab, pertarungan mendapatkan perhatian generasi muda saat ini tidak hanya terjadi di sekolah atau forum organisasi. Pertarungan itu juga terjadi setiap kali seorang anak muda membuka ponselnya. Dalam hitungan detik, algoritma dapat menyuguhkan hiburan, informasi keagamaan, berita, opini, bahkan informasi yang salah. Di ruang seperti inilah kader NU dituntut hadir. Bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai produsen informasi yang mampu menawarkan konten Islam yang edukatif, moderat, dan relevan.

Kesipulannya, berbagai aktivitas IPNU-IPPNU di Malang menunjukkan bahwa organisasi telah melakukan sejumlah langkah menuju kaderisasi yang lebih adaptif. Kaderisasi tetap berjalan. Konsolidasi terus dilakukan. Literasi mulai diperkuat. Materi jurnalistik dan media mulai masuk dalam kaderisasi. Bahkan pengembangan potensi kader melalui prestasi dan pengabdian masyarakat juga mulai terlihat.

Namun, fakta tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa IPNU-IPPNU telah sepenuhnya berhasil menjadi organisasi yang sesuai dengan karakter Gen Z. Sebab, aktivitas organisasi tidak selalu sama dengan keterlibatan generasi muda. Ukuran keberhasilan yang sebenarnya adalah apakah pelajar merasa organisasi tersebut relevan dengan kehidupannya.

Apakah mereka mendapatkan ruang untuk berbicara?

Apakah kreativitas mereka dihargai?

Apakah organisasi membantu mereka menghadapi persoalan nyata?

Dan apakah setelah mengenal IPNU-IPPNU, mereka merasa memiliki alasan untuk tetap berada di dalamnya?

Di Malang, organisasi pelajar NU telah menunjukkan tanda-tanda perubahan. Kini tantangannya adalah memastikan perubahan tersebut tidak berhenti pada program dan slogan. Sebab di era algoritma, organisasi tidak hanya bersaing dengan organisasi lain. Mereka bersaing dengan perhatian generasi muda itu sendiri. Dan siapa pun yang mampu memahami cara berpikir, kebutuhan, serta dunia mereka, kemungkinan besar akan menjadi organisasi yang tetap hidup di masa depan.

Penulis: Risfa Shofia - PK IPPNU UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor: M. Luthfi Luqman Al Mustofa

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Seberapa Siap IPNU-IPPNU Malang Menghadapi Generasi Z? "

Posting Komentar