::: Simak berbagai info PK IPNU-IPPNU UIN Maliki melalui media sosial Facebook (pkpt ipnu ippnu uin malang), Instagram (@ipnuippnu_uin) :::: untuk mekanisme pengiriman berita ataupun artikel, akan diumumkan secepatnya"
Selamat Datang di Portal PK IPNU IPPNU UIN Malang
Belajar, Berjuang, Bertaqwa
Karena IPNU-IPPNU, maka aku ada
Pengukuhan Forum Koordinasi IPNU UIN Malang
Pengukuhan Forum Koordinasi IPPNU UIN Malang
Pimpinan Pusat IPNU Luncurkan Logo Harlah Ke-63

Kader yang Baik Bukan Mereka yang Paling Sering Bicara

 

Lakmud Pelajar PK IPNU IPPNU UIN MALANG
(Sumber: Lembaga Media dan Jurnalistik PK IPNU IPPNU UIN MALANG)

Sebagai bagian dari organisasi pelajar dan pelajar, menjadi kader bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang dapat kita ikuti atau seberapa besar tanggung jawab yang mampu kita jalankan. Ada nilai yang lebih mendasar, yaitu bagaimana kehadiran kita memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar. Kehadiran seorang kader, apa pun caranya, memiliki daya sihir yang tidak kasatmata. Kehadiran seorang kader mampu membuat orang-orang di sekitarnya menyadari bahwa ruang itu terisi dan suasana itu hidup, tanpa perlu penjelasan panjang lebar. Sihir itu bekerja diam-diam, menyusup lewat tawa yang terdengar, langkah kaki yang dikenal, atau sekadar kebiasaan kecil yang tertinggal di udara, hingga orang lain sadar bahwa keberadaan seorang kader telah menjelma menjadi bagian dari tekanan suasana tersebut. Namun sebaliknya, ketika seorang kader tidak hadir, sihir itu pun ikut menghilang. Ruang yang tadinya terasa hangat tiba-tiba terasa dingin, percakapan yang biasanya mengalir tiba-tiba tersendat, seolah ada bagian dari suasana yang ikut menyertainya. Kehampaan itu perlahan-lahan bertamu, bukan sekadar menjelma menjadi ruang kosong secara fisik, melainkan penghindaran yang terasa dalam interaksi, dalam tawa yang jadi lebih sunyi, dan dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba kehilangan maknanya. Oleh karena itu, kehadiran dan ketidakhadiran sesungguhnya adalah dua sisi dari satu makna yang sama, di mana satu menghidupkan suasana dengan caranya sendiri, satu lagi justru mewujudkan betapa berartinya kehadiran itu tepat ketika ia tiada.
 
Kader yang baik bukan hanya seseorang yang mampu memimpin. Ia juga mampu memberi kesempatan kepada orang lain untuk tumbuh. Kepemimpinan sejati bukanlah soal siapa yang paling sering berdiri di barisan depan, melainkan siapa yang berani mendorong orang lain untuk ikut melangkah maju. Bayangkan sebuah organisasi yang hanya memiliki satu orang pandai berbicara, sementara yang lain hanya dibiarkan mengangguk , bahkan hal itu hanya bisa dianggap sebagai peran monopoli , bukan kepemimpinan ? Kader yang baik justru rela mundur memikirkan, memberi ruang bagi yang lain untuk mencoba, berani untuk salah, lalu belajar menjadi lebih baik lagi . Ingatlah! Kepemimpinan yang tidak mewariskan apa pun pada akhirnya hanya akan berhenti pada dirinya sendiri, bukan pada keinginan organisasi.
 
Kader yang baik bukan hanya mampu berbicara, namun juga mampu mendengarkan. Mereka tidak hanya mampu memberikan kritik, tetapi juga mampu menerima kritik. Mereka tidak hanya hadir ketika organisasi membutuhkan tenaga, namun juga mampu menciptakan suasana di mana orang lain merasa dihargai keberadaannya. Kemampuan mendengarkan sering dianggap remeh, padahal justru di situlah kedewasaan seorang kader diuji . Mendengarkan bukan untuk membalas, melainkan untuk memahami. Begitu pula ketika kritik datang, bukankah lebih mudah membela diri daripada mengakui bahwa diri kita masih punya banyak celah untuk diperbaiki? Kader yang matang memilih jalan yang lebih sulit untuk itu. Mereka berjuang menahan ego sejenak, lalu menjadikan kritik menjadi bahan untuk bertumbuh, bukan bahan untuk berlarut dalam kekecewaan. Pada akhirnya, kehadirannya tidak pernah dihitung dari seberapa banyak pembicaraan mereka , melainkan dari seberapa hangat suasana yang tercipta setiap kali mereka ada di ruangan itu.
 
Rasa kekeluargaan bukanlah sesuatu yang dibangun oleh satu orang. Ia lahir dari kebiasaan bersama. Dari cara kita berbicara, cara kita bercanda, cara kita menyampaikan kritik, dan cara kita memperlakukan orang yang berbeda pandangan dari kita. Kekeluargaan tidak lahir dari acara formal atau seremoni pelantikan, melainkan dari hal-hal kecil yang diulang setiap hari tanpa disadari. Coba perhatikan, bukan candaan ringan di sela rapat justru sering kali lebih mempererat daripada seribu kata Berbagai yang formal? Maka dari itu, kekeluargaan sesungguhnya adalah hasil akumulasi dari ribuan interaksi kecil yang konsisten menjaga rasa aman dan dihargai bagi setiap orang di dalamnya.
 
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah mengalami konflik. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menghadapi konflik tanpa kehilangan rasa saling menghargai. Konflik yang disangkal atau dipendam justru lebih berbahaya daripada konflik yang dibicarakan secara terbuka, karena luka yang tidak diobati hanya akan membusuk secara diam-diam. Bukankah lebih baik berdebat demi kebaikan bersama, daripada diam-diam menyimpan kekecewaan yang lambat laun meracuni kepercayaan? Organisasi yang dewasa memahami bahwa perbedaan pendapat bukanlah ancaman, melainkan tanda bahwa setiap orang di dalamnya masih peduli dan berani bersuara. Ingatlah! Yang membedakan organisasi yang runtuh dan organisasi yang bertahan bukanlah tidak adanya konflik, melainkan cara mereka menerima dan memilih untuk pulih setelahnya.
 
Membangun rasa kekeluargaan dapat dimulai dari pertanyaan sederhana kepada diri sendiri: “Apakah kehadiranku membuat orang lain merasa lebih dihargai?” Pertanyaan ini terdengar sepele, tapi jika direnungkan dengan baik , bisa menjadi cermin paling jujur ​​tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Sebab, tidak sedikit orang yang merasa telah memberikan kontribusi besar bagi organisasi, padahal kehadirannya justru hanya sekedar formalitas belaka, dan membuat orang lain merasa kecil dan tidak nyaman. Jika penjelasan dari pertanyaan tersebut masih ragu-ragu, mungkin itu tanda bahwa ada cara kita memberi isyarat yang perlu dievaluasi kembali, bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk terus memperbaiki diri. Pertanyaan ukuran itu, jika terus-menerus ditanyakan setiap hari dengan diimbangi perenungan yang bijak , perlahan bisa menjadi kompas moral bagi setiap kader dalam menjalankannya.
 
Sehingga kader perlu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui tindakannya masing-masing, memahami organisasi tidak hanya akan menjadi tempat untuk menjalankan program kerja, tetapi dapat menjadi rumah untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan makna kebersamaan. Akhir dari sebuah organisasi bukan sekedar mencetak laporan pertanggungjawaban yang rapi, melainkan mencetak manusia-manusia yang lebih baik dari sebelumnya . Rumah yang dimaksud di sini bukan bangunan fisik, melainkan ruang batin tempat setiap orang merasa aman untuk gagal, mencoba lagi, dan tetap menerima apa adanya. Ketika kebersamaan itu terbentuk, program kerja hanya akan menjadi bonus dari sebuah proses yang jauh lebih besar , yaitu proses memanusiakan manusia di dalam organisasi itu sendiri. B arangkali, di situlah letak keberhasilan sejati sebuah organisasi yang jarang tercatat dalam laporan tahunan mana pun.
 
Pada akhirnya, organisasi bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan bersama, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan manusia yang hadir dan bertumbuh bersama kita. Program kerja bisa saja selesai dalam hitungan bulan, tetapi cara kita memperlakukan sesama akan terus dikenang jauh melebihi masa jabatan. Bukankah lebih baik dikenal sebagai organisasi yang hangat dan memanusiakan, dari sekadar organisasi yang produktif namun meninggalkan luka pada kader-kadernya? Maka, jadikanlah setiap interaksi, kecilkan apa pun itu, sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita peduli sesama dengan memandang layaknya manusia, bukan sekadar peduli pada hasil kerja layaknya robot belaka. Organisasi yang hebat bukan yang paling ramai dipuji, melainkan yang paling dirindukan kehadirannya. Kerinduan itulah yang memberikan penerimaan tanpa syarat bagi setiap kader untuk berani berkembang dan melangkah lebih jauh.


Penulis: Ahmad Arif Nahidl Ramdlany
Editor: Muhammad Raihan Naufal Ash Shidiqy


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Kader yang Baik Bukan Mereka yang Paling Sering Bicara "

Posting Komentar